Kamis, 21 Februari 2008

Lahir dari Petani yang Peduli

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah

Keberhasilan pendidikan diukur jika anak senang belajar dan bisa belajar dengan senang.

Beberapa anak terlihat asyik di depan komputernya masing-masing. Di antaranya ada yang menulis sebuah cerita, sebagian ada yang menggambar, bahkan ada juga yang sedang mengakses internet. Begitulah sebagian dari aktivitas para siswa di SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah, Salatiga, Jawa Tengah.

SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah bukanlah sekolah internasional yang berada di tengah-tengah kota. Juga bukan sekolah mahal yang dikhususkan bagi anak-anak orang kaya. Sekolah modern ini terletak di sebuah desa kecil bernama Kalibening dan lokasinya bergandengan dengan rumah Bahruddin, kepala sekolah SMP itu.

Meski berlokasi di desa dan menumpang di rumah kepala sekolahnya, namun internet bagi para siswa di sekolah itu bukan hal yang asing. Mereka bisa mengakses internet kapan saja. Tak cuma itu, setiap pagi mereka berlatih bahasa Inggris dalam English Morning. Bahkan di antara muridnya ada yang pernah menjuarai lomba penulisan artikel online di Kota Salatiga.

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah resmi terdaftar sebagai SMP Terbuka, sekolah yang sering diasosiasikan sebagai sekolah untuk menampung orang-orang miskin agar bisa mengikuti program wajib belajar sembilan tahun. SMP terbuka ini menggunakan kurikulum nasional. Dananya dari APBD Kota Salatiga. Sedangkan sekolah induk yang ditunjuk adalah SMPN 10 Salatiga.

Bahruddin mengatakan, sekolah yang dipimpinnya menerapkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Dengan jumlah murid yang dibatasi untuk setiap kelas, semua guru mampu mengetahui dan memberikan penilaian sikap serta kemampuan belajar seorang murid mulai dari A hingga Z.

Bahkan, untuk mata pelajaran tertentu seperti matematika dan bahasa Inggris yang menjadi momok bagi murid di sekolah, dijadikan santapan sehari-hari dan dijadikan mata pelajaran pertama saat sekolah dimulai pada pukul 06.00. Sementara pendidikan agama diberikan menjelang akhir sekolah setiap hari, yakni mulai pukul 13.30 hingga pukul 14.00.

Selain pelajaran di kelas, para siswa juga banyak belajar keterampilan, seperti komputer, menyanyi, gitar, kesenian tradisional. Bahkan anak- anak petani sederhana itu di kelasnya masing-masing memiliki sebuah komputer, gitar, sepasang kamus bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris, satu paket pelajaran bahasa Inggris BBC di rumahnya.

Menurut Bahruddin, semua itu tidak digratiskan. Anak-anak memiliki semua itu dengan membayar sebesar Rp 3.000 setiap hari. Uang sebesar itu, Rp 1.000 digunakan untuk mengangsur pembelian komputer, sedangkan untuk sarapan pagi, minum susu, madu, dan makanan kecil tiap hari sebesar Rp 1.000, sedangkan Rp 1.000 lainnya untuk ditabung di sekolah. Tabungan sekolah itu dikembalikan untuk keperluan murid dalam bentuk gitar, kamus, dan lain-lainnya. Tak heran, jika anak-anak dan orangtua mereka bangga dengan sekolah itu.

Sekolah ini cukup sederhana, karena para siswa yang belajar hanya menempati dua ruangan di rumah Bahruddin, yang sebelumnya digunakan untuk sekretariat organisasi tani Qaryah Thayyibah. Kendati demikian, masyarakat mengakui keunggulan pendidikannya, pasalnya nilai rata-rata ulangan murid SMP Qaryah Thayyibah jauh lebih baik daripada nilai rata-rata sekolah induknya, terutama untuk mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris.

Tak hanya itu, sekolah ini juga mampu mengimbangi sekolah-sekolah negeri dalam lomba cerdas cermat penguasaan materi pelajaran di Salatiga. Sekolah itu juga mewakili Salatiga dalam lomba motivasi belajar mandiri di tingkat provinsi. Bahkan pernah mewakili Salatiga hadir dalam Konvensi Lingkungan Hidup Pemuda Asia Pasifik di Surabaya.

Secara fisik dan konseptual, SMP Alternatif Qaryah Thayyibah ini menyatu dengan alam sekitarnya. Tidak ada pagar yang membatasi sekolah dengan lingkungan sekitarnya. Tidak ada pintu gerbang yang digerendel ketika anak bersekolah. Lingkungan alam di sekitarnya digunakan sebagai laboratorium belajar. Bahkan sebuah kompor biogas yang diolah dari kotoran hewan dan manusia terang-terangan dipertontonkan kepada siswa untuk memasak.

Meski setia mengikuti kurikulum nasional, SMP Alternatif Qaryah Thayyibah juga menekankan semangat pembebasan, kreativitas, dan keberpihakan kepada orang miskin. Guru dan siswa tidak ditempatkan dalam hubungan guru yang mengajar dan murid yang belajar, tetapi merupakan bagian dari sebuah tim yang saling bersinergi. "Inilah yang akan membongkar citra bahwa sekolah itu dingin, tak berjiwa, birokratis, seragam, asing bagi kaum miskin di pedesaan, dan membosankan bagi guru dan siswa," kata Bahruddin.

Belajar dalam suasana yang menyenangkan merupakan cetak biru dari SMP Alternatif Qaryah Thayyibah. Menurut Bahruddin, ukuran keberhasilan pendidikan adalah jika anak senang belajar dan bisa belajar dengan senang. Karena itu, bila sekolah tidak bisa memberikan rasa nyaman, keberhasilan anak untuk belajar sudah terkurangi. Karenanya, proses pembelajaran harus dibangun berdasarkan kegembiraan murid dan guru.n rozi


Karena Keprihatinan

SMP Qaryah Thayyibah lahir dari keprihatinan Bahruddin melihat pendidikan di Tanah Air yang makin bobrok dan makin mahal. Pada pertengahan tahun 2003 ketika anak pertamanya, Hilmy, akan masuk SMP favorit di Salatiga. Bahruddin terusik dengan anak-anak petani lainnya yang tidak mampu membayar uang masuk SMP negeri yang saat itu telah mencapai Rp 750.000, uang sekolah rata-rata Rp 35.000 perbulan, belum lagi uang seragam dan uang buku yang jumlahnya mencapai ratusan ribu rupiah. "Saya mungkin mampu, tetapi bagaimana dengan orang-orang lain?" tutur Bahruddin.

Bahruddin yang menjadi ketua rukun wilayah di kampungnya kemudian berinisiatif mengumpulkan warganya menawarkan gagasan, bagaimana jika mereka membuat sekolah sendiri dengan mendirikan SMP alternatif.

Dari 30 tetangga yang dikumpulkan, ternyata ada 12 orang yang berani memasukkan anaknya ke sekolah coba-coba itu. Untuk menunjukkan keseriusannya, Bahruddin juga memasukkan Hilmy ke sekolah yang diimpikannya itu. "Saya ingin membuat sekolah yang murah, tetapi berkualitas. Saya tidak berpikir saya akan bisa melahirkan anak yang hebat-hebat. Yang penting mereka bisa bersekolah," katanya.

Bahruddin mengadopsi kurikulum SMP reguler di sekolahnya. Ia menyatakan tidak sanggup menyusun kurikulum sendiri. Lagi pula sekolah akan diakui sebagai sekolah berkualitas jika bisa memperoleh nilai yang baik dan mendapatkan ijazah yang diakui pemerintah. Karena itulah ia memilih format SMP Terbuka. Namun, ia ingin mengubah opini di masyarakat bahwa sekolah bukan hanya sebagai lembaga untuk membagi-bagi ijazah. Karenanya, ia mengelolanya dengan serius.

Kini, setelah beberapa tahun, masyarakat baru sadar bahwa pendidikan yang digagas dari para petani itu ternyata menjadi sekolah unggulan dan mulai banyak dikambangkan di wilayah Jawa Tengah. Sekolah sejenis juga telah dikembangkan paguyuban petani di bawah naungan Sarikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) seperti di Boyolali, Magelang dan Semarang.

Menurutnya, dasar mendirikan sekolah tersebut karena keprihatinannya terhadap kualitas pendidikan anak petani tidak seperti yang diharapkan. Pendidikan atau sekolah berkualitas jarang ada dan kalau pun ada pasti mahal, seperti sekolah unggulan atau sekolah plus. Akibatnya, masyarakat tani kecewa. "Nah, dari dasar tersebut, kami berinisiatif mendirikan sekolah alternatif dengan biaya murah, tetapi kualitas dan pendidikannya tidak kalah dari sekolah lain," ujar Bahruddin.n rozi

Tidak ada komentar: