Sabtu, 16 Februari 2008

Bangga dengan Identitas Muslim



Iskandar Zulkarnain

“Hadza min Fadli Rabbi”, begitu ungkapan syukur yang meluncur dari bibir pengusaha Iskandar Zulkarnain. Selain sukses mengembangkan bisnis pengiriman barang ekspor-impor kelas dunia di Internusa Cargo, ia juga menjadi salah satu komisaris Bank Muamalat Indonesia (BMI).

Berbekal kejujuran dan istiqomah Iskandar menekuni bisnisnya mulai dari nol. Tidak hanya itu, ternyata ia mempunyai kebiasaan bersilaturrahim dan mau berkenalan dengan siapa saja untuk memperluas pertemanan dan kekeluargaan. Al-Hasil, diawal usaha ia banyak mendapatkan support dan kepercayaan dari para mitranya ketika memulai bisnis di pelayaran.

“Saat itu saya hanya bonek (bondo nekat-red) karena tidak punya modal dan koneksi atau becking kuat (istilah waktu itu)di Jakarta, namun saya sering silaturrahhim ke kenalan-kenalan, hingga akhirnya Allah memberikan bermitra dengan teman yang mempunyai modal untuk menjadi partner kerja untuk memulai bisnis ini,” ungkapnya kepada majalah Gontor saat ditemui di kediamannya yang asri dibilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Kisah sukses pria yang biasa akrab dipanggil Pak Is ini berawal dari pemikiran sederhana sebagai putra daerah yang berobsesi bisa menjelajah luar negeri tanpa biaya alias gratis. Karenanya, setelah tamat SMAN 1 Malang, ia memilih masuk ke sekolah Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) di Jakarta, meski saat itu ia diterima di Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. “Akhirnya pada tahun ketiga, saya sudah mulai berlayar ke beberapa negara di antaranaya Singapura, Amerika, Kanada, Eropa, Belgia,” kenang suami dr Elfida Zulkarnain.

Diakuinya, pendidikan semi militer yang ia dapatkan di AIP telah mengubah perilakunya dari anak bungsu yang cengeng menjadi pribadi yang kuat dan tegar. “Saya memilih AIP bukan sebuah kebetulan, tapi saya yakin itu “Blessing indisguise” (anugrah terselubung) dari Allah, di mana saya dididik sebagai calon Nakhoda dengan semi militer untuk tidak boleh cengeng,” akunya.

Namun sayang setelah lulus dari AIP impiannya menjadi seorang pelaut sirna ketika krisis dan peraturan “scraping” melanda bisnis pelayaran. Beruntung sekali seolah dapat berkah ia diterima di perusahaan marketing di perusahaan pelayaran Ever green line, Taiwan. Di perusahaan inilah awal ia mencari celah bisnis barunya.

Setelah tiga tahun ia banyak belajar di dunia marketing pelayaran. ia pun memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan bertekad membuka usaha sendiri. Namun sayang, karena “terlalu polos” pamit menjelang pembagian bonus maka saat itu ia hanya mendapatkan bonus Rp 250 ribu, padahal jika ia mau sabar ia bisa mendapatkan bonus sebesar Rp 5 - 10 juta di tahun 1987. “Saya pun berpikir keras bagaimana mendirikan usaha tanpa modal,” ujar bapak dari 4 anak ini.

Dia mengawali usaha bersama beberapa temannya membuka Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL), dengan modal utama kemampuan handling cargo dan kepercayaan para exportir pelanggannya saja.

Dari modal kepercayaan ini pula ia bisa memuat container disebuah kapal dan ia mendapatkan bayaran dari kliennya. Proses ini terus berjalan hingga ia memiliki modal yang cukup. Setelah dua tahun ia menggeluti bisnis ini, ia pun mengembangkan sayap usahanya menjadi lebih besar lagi.

Lagi-lagi ia mendapatkan berkah dari pertemanan. Saat itu, ketika kesulitan untuk membuka ijin usaha karena harus dengan modal yang harus disetor Rp 200juta, ia mendapatkan pinjaman dari seorang kepala cabang sebuah bank, sehingga proses perizinan usaha ke Departemen Perhubungan bisa dipenuhi, akhirnya ia mengubah usahanya dari jasa pengangkutan EMKL lokal menjadi bertaraf Internasional dengan nama PT Internusa Hasta Buana (IHB).

“Saat itu hanya ada 6 karyawan, dan cabangnya masih di Jakarta saja. Alhamdulillah saat ini ada 283 orang karyawan dengan 14 cabang di Indonesia. Sedangkan untuk keagenan dengan negara lain kami membentuk aliansi bernama FPS(Famous Pacific Shipping) yang beranggotakan 28 negara sebagai Group member dengan tambahan 45 negara sebagai general agen dan 40 negara sebagai network agent, total sekarang sudah 120 negara sebagai jaringan kerja kami yang bisa melayani lebih dari 300 titik tujuan utama” paparnya.

Kini, Iskandar hampir menjawab impiannya untuk bisa mengelilingi dunia. Bayangkan, beberapa negara yang sudah ia singgahi seperti Amerika, Canada, Australia, New Zealand, Hongkong, China, Thailand, Korea, Taiwan, Jepang, Singapura, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Afrika Selatan, Mesir, Dubai, Saudi Arabia, Turki, Jerman, Belanda, Inggris, Prancis, Cyprus dan lainnya. “Setiap kali saya singgah, saya selalu membawa souvenir sebagai ciri khas negara yang saya singgahi,” paparnya.

Dengan banyaknya kolega yang non-muslim, Iskandar merasa bangga dengan identitas kemuslimannya. Iklim bisnis yang ia jalani memacunya untuk tampil menjadi muslim yang baik dan berkepribadian. Karenanya, tak heran jika ia menjadi salah seorang terkemuka di lembaga Famous Pacific Shipping Group, yaitu sebagai Executive Committee yang menjalnkan lembaga aliansi bisnis internasional ini. “Jadi muslim harus pe-de(percaya diri-red), kita harus tampil, harus bicara menyampaikan gagasan, kita tidak kalah koq dengan bangsa lain dan mereka biar bule akan respek pada kita,” jelasnya.

“Saat mereka menawarkan makanan atau minuman yang diharamkan dalam Islam dengan tegas saya menolak tawaran mereka “I am a Moslem”. Ketika saat meeting hari Jumat, jika waktunya tiba saya bilang kepada mereka saya mau ibadah jumat dulu. Karenanya omong kosong jika orang bilang kalau berbisnis tidak minum alkohol bersama partner bisnis, dan kaku tidak bisa entertain maka bisnis kita tidak akan berkembang. Orang sekarang beranggapan jika bisnis gak ikut minum khamr, ikut karaoke akan kehilangan bisnisnya, saya membuktikan tidak seperti itu,” ujarnya.

Tidak hanya itu, selain sukses menapaki karir di IHB, Iskandar juga aktif dalam pengembangan perekonomian syariah. Hal ini terbukti keberpihakannya untuk menjadi pengurus MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) dan salah satu Komisaris di Bank Syariah pertama di Indonesia, yaitu Bank Mumalat Indonesia.

Awalnya, saat ia baru setahun menjalankan usahanya di (IHB), ia juga mengikuti kuliah diprogram ekstension jurusan ekonomi di Universitas Indonesia (UI) tahun 1991. Saat itu, hatinya terketuk ketika dosen tamunya I Nyoman Moena (Deputy BI-waktu itu) memberikan presentasi pada kuliah umumnya, di mana dimasa mendatang akan ada ekonomi alternative atas ekonomi kapitalis saat ini yaitu ekonomi dengan sistem bagi hasil, dan salah satu instrumennya adalah Islamic banking concept, “Saya berpikir, ini merupakan terobosan bagus dan manarik, dan artinya sistem ekonomi syariah mulai diakui,” katanya.

Tidak lama kemudian, lahirlah Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada 1992. Karena keyakinannya akan konsep syariah, ia sebenarnya ingin membeli saham di BMI namun karena masih baru merintis usaha maka ia cukup hanya sebatas menjadi nasabah BMI saja. “Pernah saat itu saya mau meminjam ke bank mumalat, tapi permohonan saya ditolak alasannya karena tidak punya agunan,” kenangnya.

Beberapa tahun setelah menjadi nasabah di BMI, tepatnya pada 1997 Indonesia dilanda krisis moneter, sehingga banyak perbankan yang kolaps saat itu. Secara bersamaan, BMI juga membutuhkan dana untuk penambahan modalnya. “Bank Syariah ini perlu dibantu” kata hatinya, Akhirnya ia pun langsung membeli 4 juta lembar saham senilai Rp 4 milyar. Kontan saja, ia pun menjadi pemegang saham individual terbesar saat itu.

“Ini sebenarnya berkah dari dampak krisis moneter, sebab saat itu usaha yang saya geluti menerima pembayaran dengan mata uang dolar, sehingga pemasukan dari usaha cukup besar jika di kurs-kan menjadi rupiah,” jelasnya.

Keputusannya untuk membeli saham di BMI banyak dikritik dan diledek oleh rekan-rekannya, tindakan yang dianggap bodoh, sebab saat itu banyak bank konvensional yang menawarkan dirinya deposito dengan bunga tinggi, hingga mencapai 40 %.

“Banyak penawaran untuk penempatan uang di bank konvensional dengan iming-iming bunga yang menggiurkan. Padahal kalau saya mau saat itu, maka saya setiap bulannya bisa mendapatkan bunga dari nilai saham saya sekitar 130 juta atau Rp 1.6 milyar pertahun tanpa kerja. Tapi alhamdulillah saya tidak bergeming, meskipun selama kurun waktu empat tahun saya tidak mendapatkan dividen diBMI dari saham saya,” tandasnya.

Kepedulian Iskandar terhadap pengembangan ekonomi syariah tidak perlu diragukan lagi. Pasalnya selain menjadi komisaris di BMI, ia juga aktif di ormas Islam Muhammadiyah, di sini ia menjabat sebagai wakil ketua Majelis Ekonomi PP-Muhammadiyah untuk periode 2000-2005, juga pernah menjabat ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), pernah menjadi ketua Forum Zakat (FOZ), MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) dan saat ini ia juga aktif di yayasan el-Makkiyah yang telah mempunyai RS Interzone Treatmen Center untuk mengobati pecandu narkoba di Bogor.

Ia juga banyak bicara tentang ekonomi ummat, khususnya dalam pengentasan kaum dhuafa melalui UKM, "Saya dan teman-teman berupaya agar kaum dhuafa kita yang notabene kaum Muslimin bisa terangkat dari dalam jurang kemiskinannya, dan itu tugas kita bersama,” ungkap pria yang pernah keliling Jawa, Bali, Sumatera dan Australia dengan moge (motor gede) alias Harley Davidson ini.

2 komentar:

IT&News CAAIP team mengatakan...

Boss Izin Share ya..postingannya

Unknown mengatakan...

Apa kabar Pak Iskandar saat ini yaa