Sepuluh tahun bekerja di sebuah perusahaan jasa pengiriman yang mapan tak membuat Ridwan Munir puas begitu saja. Ia akhirnya memilih menjadi pengusaha susu kambing organik daripada selamanya menjadi karyawan.
Selalu ingin maju, tak mau diam, dan nyali besar. Itulah syarat utama bagi siapa pun yang hendak mendirikan usaha sendiri. Hal itu juga yang dilakukan Ridwan Munir. Meski sudah sepuluh tahun bekerja di sebuah perusahaan yang mapan, dengan jabatan setingkat supervisor, semua itu tidak membuatnya puas begitu saja.
Kisah berawal ketika ia berkesempatan naik haji melalui biaya perusahaan.Waktu itu, selama di kota suci Makkah, ia bermunajat kepadaAllah untuk kebaikan masa depannya. Yaitu pada satu doa yang berisi pilihan antara terus bekerja sebagai karyawan atau usaha sendiri. “Saya berdoa agar diberi petunjuk,” ujar suami Wiwin Fauziyah.
Selesai ibadah haji, Ridwan berkonsultasi dengan orangtuanya untuk mendirikan usaha sendiri. Awalnya orangtuanya tidak menyetujui, karena ia sudah berkeluarga, sedang bisnis yang akan ia jalani masih terbilang baru dan belum dikuasai.
Tapi orangtua Ridwan akhirnya pasrah setelah melihat kesungguhan Ridwan, dan berdoa kepada Allah untuk kelancaran usahanya. Pada tahun 2008, dengan tekad bulat, Ridwan Munir akhirnya mengundurkan diri dari perusahaan lamanya.
Sebelum terjun total sebagai produsen susu kambing etawa, Ridwan sebenarnya telah merintis bisnis susu ini saat menjadi karyawan. Ia melakukannya di tengah-tengah kesibukannya bekerja di kantor. Setiap hari ini berangkat lebih pagi untuk mengantarkan pesanan susu kambing para pelanggannya. Setelah jam kantor, ia pun masih harus mengantarkan susu ke para pelanggannya hingga tengah malam.
“Pulang rumah kadang hingga jam dua belas malam,” kenang ayah dua anak ini kepada majalah GONTOR. Awalnya ia hanya memasarkan 1 liter susu untuk orang-orang di sekelilingnya, terutama orang-orang kantor. Satu liternya ia beli dengan harga Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu.
Tak disangka, permintaan susu yang dia jual semakin bertambah hingga mencapai 40 liter per minggu. Karena order semakin banyak, Ridwan pun mengajukan diri ke produsen menjadi agen di Jakarta, dengan demikian margin keuntungan yang ia peroleh semakin besar dan pasarnya semakin luas.
Dari hasil penjualan susu itu ia bisa membeli lemari es seharga Rp 1,6 juta. Selanjutnya, bahkan ia bisa membeli kambing, tanah, dan membuat kandang. “Alhamdulillah setelah melalui proses akhirnya mulai menemukan pasarnya,” kata lelaki berkaca mata ini.
Ridwan adalah sosok yang tak mau diam. Setelah sukses sebagai agen susu, ia kemudian mulai menjajaki peternakan kambing. Di sini ia melihat gambaran bisnis yang menjanjikan. Setidaknya ada empat item bisnis ini yang dihasilkan kalau ia punya peternakan sendiri. Pertama, penghasilan harian dari susu; kedua, penghasilan mingguan dari kotoran kambing; ketiga, penghasilan bulanan dari penjualan kambing aqiqah; dan keempat, penghasilan tahunan dari penjualan kambing untuk Hari Raya Qurban. “Belum lagi saat ada pesanan mengolah kambing menjadi menu masakan,” katanya.
Akhirnya, pada tahun 2008, selain menjadi agen susu kambing ia juga memutuskan untuk membuka peternakan sendiri. Kambing yang ia ternak adalah jenis kambing etawa, yaitu kambing asal India yang terkenal memiliki kadar susu terbaik untuk kesehatan. Ia membeli kambing umur 8 bulan sebanyak 10 ekor yang harga per ekornya Rp 2 juta. Dari hasil ternaknya, kini ia telah memiliki 7 ekor kambing etawa jantan dan 273 ekor kambing betina.
Untuk pemasaran dan produksi susu kambing, ia dibantu oleh 7 tim. Selain pemasaran via internet, ia juga membuka agen-agen untuk menjangkau pasar yang lebih luas lagi, yang saat ini jumlahnya mencapai belasan. Selain di Jakarta, Ridwan telah berhasil membuka pasar di luar Jawa seperti di Makassar, Bengkulu, Palembang, Lampung dan Batam. “Kami terus menjajaki pasar wilayah lain sesuai dengan kemampuan kami,” paparnya.
Perihal prospek bisnis ini, Ridwan mengatakan bahwa peluangnya sangat bagus. “Selama masih banyak orang yang sakit dan menjaga kesehatan, susu akan tetap dibutuhkan,” terangnya. Apalagi, persaingan di bisnis ini juga masih belum terlalu ketat. Karena itu, strategi Ridwan adalah menjaga kualitas susunya. “Jadi mulai dari kandang hingga ke pelanggan harus higienis dan dilakukan dengan profesional,” ujarnya.
Alhamdulillah, dari hasil usaha yang ia lakukan selama tiga tahun ini Ridwan sudah bisa membangun rumah dua lantai, membeli tanah untuk beternak, dan mobil. Bahkan dari hasil keuntungan yang ada ia sisihkan untuk anak yatim dan pesantren sebesar 12,5 persen.
Tentu saja tidak ada kesuksesan yang tanpa hambatan. Ridwan mengaku dirinya pernah ditipu di awal berbisnis. Yaitu ketika dirinya membeli kambing dan menyerahkan ke seorang peternak untuk mengelolanya dengan model bagi hasil. Untuk pembagian susu, 40 persen untuk dirinya; dan 60 persen untuk peternaknya. Jika kambing melahirkan dua ekor maka akan dibagi rata, tapi jika satu ekor maka giliran.
Tapi semua tidak berjalan mulus, karena peternak mengatakan tiga ekor kambingnya mati, hilang dan susunya sedikit padahal saat itu kambing sudah bisa produksi. Selidik punya selidik ternyata kambing dijual oleh peternak tanpa sepengetahuannya. “Ya itu bagian dari perjalanan yang harus saya lewati. Itu ujian bagian saya,” kenangnya.
Sejak itu, Ridwan mengaku terobsesi untuk menjadikan bisnis ini tidak hanya untuk mencari uang tapi lebih dari itu bisa memberikan pencerahan kepada siapa saja yang ingin membuka peternakan kambing organik. “Kami siap memberikan penyuluhan kepada peternak kambing yang ingin hasilnya lebih baik dan berkualitas,” ungkap lelaki yang sekarang sudah beromzetRp 100 juta per bulan./fathurroji
Boks
Berkreasi Sejak di Pesantren
Usai menamatkan bangku sekolah dasar, Ridwan Munir melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren Darunnajah, Ulujami, Jakarta. Selama di pesantren, ia banyak aktif di organisasi dan kegiatan yang menyangkut masalah kesehatan atau bagian kesehatan santri.
Selain itu, ia juga aktif sebagai pelatih bela diri Tapak Suci, dan keterampilan kaligrafi berbahan dasar kaca dan kertas hias. Tak heran, bila ia juga pernah berjualan karya kaligrafi karyanya sendiri. “Hasilnya tak seberapa tapi bisa menjual sudah cukup,” kenangnya.
Lulus dari Darunnajah, ia melanjutkan kuliah ke Jurusan Dakwah, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Selama menjadi mahasiswa ia juga tak pernahdiam. Keahlian kaligrafi yang pernah ia dapatkan dari pondok ia kembangkan saat menjadi mahasiswa. Selain itu ia juga menjadi guru private mengaji al-Qur’an.
Setelah memiliki banyak murid les private, ia pun merekrut 11 guru ngaji jika sewaktu-waktu ada yang pesan les private. “Saat mahasiswa saya sudah bisa cari duit sendiri,” katanya.
Lulus dari kuliah, ia mencoba peruntungan untuk bekerja di sebuah perusahaan. Gayung pun bersambut. Tak lama menganggur, ia sudah diterima di sebuah perusahaan di Jakarta. Tapi hanya bertahan sekitar 10 tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk membuat usaha sendiri, yaitu peternakan kambing organik. Fathurroji
Awalnya Lukman hanya menjadi penjaga sandal dan parkir di masjid. Kini ia berbisnis SPBU, trader dan konsultan pelumas. Ikuti kisahnya.
Salah satu kebiasaan masa kecil Lukman El Hakim, pengusaha sukses asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, adalah gemar datang ke masjid. Baik untuk ibadah, belajar, tidur, hingga bersih-bersih masjid. ”Orang tua saya menganjurkan saya untuk sering-sering ke masjid,” kisahnya saat ditemui di rumahnya.
Lelaki 44 tahun yang biasa dipanggil Daeman ini, bahkan sampai SMA masih menjadi penjaga sandal masjid dan tukang parkir masjid. Selain mengikuti anjuran orang tuanya, kecintaan Lukman kepada masjid juga karena ajaran Rasulullah, karena di masjid lah terdapat banyak berkah.
Dilahirkan dari keluarga pegawai negeri yang pas-pasan, Lukman dididik oleh orangtuanya, H Abdul Rahim Muhammad Shaleh dan Hj Zainab, menjadi pribadi yang ulet dan mandiri. Bersama kakaknya, Abdul Haris, sejak kecil ia sudah terbiasa berjualan jasa dan makanan di acara-acara di luar masjid. Sejak kecil juga, Lukman sudah punya cita-cita menjadi businessman.
Dari kerja kecil-kecilan itulah, ia mampu menambah ongkos jajannya ketika duduk di bangku sekolah. Setelah lulus SMA Negeri 1 Mataram Lombok, Lukman melanjutkan kuliah di Universitas Mataram (UNRAM) jurusan Ekonomi. ”Apa yang kita dapatkan sekarang adalah berkah dari masjid. Makanya kalau mencari rumah, saya selalu mencari yang dekat masjid,” kata lelaki dari 7 bersaudara ini.
Selama di kampus, berbagai aktivitas kampus ia ikuti. Misalnya, Lukman pernah menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Ekonomi UNRAM. Saat itu ia tak gengsi untuk memakai sepeda bututnya mondar-mandir dari rumah ke kampus. Selain itu, ia juga aktif mengajar di pesantren Al-Aziziyah yang berjarak 5 km dari rumahnya.
Tak hanya mengajar di pesantren, Lukman juga aktif sebagai Sekretaris Ma’ahad Tahfizul Qur’an, Pondok Pesantren Al-Aziziyah Lombok Barat, NTB. Sebagai pengurus pesantren ia bertugas mencarikan dana untuk pembangunan lokal kelas dan asrama pesantren. Tak jarang ia haru berjalan kaki meski yang ia dapat saat itu hanya sebesar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu.
Hijrah Ke Jakarta
Lukman pertama kali ke Jakarta ketika bersama Tuan Guru menyerahkan proposal pembangunan pesantren. Itulah pertama kalinya ia mengenal Jakarta, tapi sejak saat itu Jakarta telah menjadi daya tarik baginya. Apalagi, saat itu calon istrinya baru lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Hal ini semakin membuatnya bertekad untuk ke Jakarta mencari pengalaman baru.
Nasihat orangtuanya “Kalau ingin berhasil, merantaulah!” semakin membuatnya bersemangat. Lelaki kelahiran Mataram, 29 Januari 1965 ini akhirnya menerima panggilan kerja di sebuah perusahaan di Jakarta, meski pada waktu itu ia belum lulus. Setelah lulus dan diwisuda, Lukman pun pun hijrah menuju Jakarta. Bekalnya waktu itu, Rp 100 ribu, dikirim dari perusahaan yang menerimanya.
Pertama kali di Jakarta ia tinggal di rumah direktur perusahaan. Tapi kenyataan hidup memang tak seindah harapan. Meski langsung mendapatkan jabatan sebagai Manajer Marketing, Lukman merasa tak tahu apa yang harus ia lakukan dengan posisinya itu. Waktu itu produknya adalah hand clean.
Singkat cerit, dalam suatu kesempatan, calon istrinya menginformasikan sebuah lowongan baru sebagai sales di PT. Datascrip, sebuah perusahaan terpandang yang menyediakan peralatan-peralatan kantor. Tanpa membuang kesempatan, Lukman pun melamar ke perusahaan itu, dan diterima sebagai salesman.
Satu hal yang selalu ia ingat dan selalu menjadi penyemangat dirinya untuk berjualan, yaitu ungkapan manager personalia yang mewawancarainya, ”Aku yakin kamu pasti bisa menjual kursi kantor ini.” Dalam hati kecilnya Lukman berkata, ”Orang lain saja tahu kalau saya bisa menjual, kenapa saya tidak yakin dengan diri sendiri ya?”
Setelah positif diterima sebagai karyawan, Lukman pun mengajak calon istrinya (Intani Khoirina) untuk langsung menikah. Pernikahan dilangsungkan di Tangerang, Banten, tanpa dihadiri orang tua Lukman. ”Istri saya juga baru beberapa bulan di Jakarta. Jadi sama-sama modal nekat,” kenangnya. “ Saya modal Rp 1,5 juta hasil pinjam kepada kakak untuk menikah,” tambah Lukman.
Setelah menikah, Lukman tentu saja belum mampu untuk mengontrak rumah atau kos. Keduanya terpaksa tinggal di rumah Pak De dari istri selama tiga bulan. Setelah itu keduanya mulai indekost selama 3 bulan, dan setelah mendapatkan penghasilan yang cukup mulai mengontrak dengan harga Rp 750 ribu setahun.
Tanggung jawab sebagai calon ayah membuat Lukman semakin giat bekerja. Dengan mengenakan celana cutbrai dan logat bahasa Lombok yang kental ia menembus pasar kursi perkantoran di bilangan Jalan Sudirman, MH. Thamrin, dan Gatot Subroto. Hasilnya, dalam waktu setahun ia sudah tercatat sebagai 10 sales terbaik di Indonesia untuk pemasaran di Datascrip.
Karena kelelahan berjalan kaki terus, Lukman pun kemudian membeli motor bekas merk Vespa Bajaj tahun 1975 seharga Rp 550 ribu. Uang sebanyak itu hasil pinjaman dari temannya. Tapi dengan begitu, ia bisa menjelajahi Jakarta untuk memasarkan produk-produknya. Tak jarang ia ditilang oleh Polisi karena ke sasar jalan. ”Bahkan motor masuk tol pun saya pernah. Maklum orang kampung,” katanya.
Taktik Lukman sederhana dalam memasarkan produk-produk kursi kantornya. Mula-mula ia meminjamkan kursinya kepada calon pembeli untuk dipakai selama satu atau dua minggu. Sebelum waktunya habis, ia akan menarik kursinya. Nah, dari situ, kebanyakan calon pembelinya biasanya sudah “jatuh cinta” dengan kursi miliknya, karena merasa sudah nyaman dan betah dalam bekerja. Biasanya juga, mereka pun akan membeli kursi yang sudah dicoba itu.
Tak heran jika ia kemudian dipercaya menggarap segmen market oil company, dan ternyata cukup berhasil sehingga hampir seluruh perusahaan oil company memakai kursi yang ia jual. ”Akhirnya, dalam setahun saya dapat membeli mobil meski bekas,” terangnya.
Perkembangan selanjutnya, sejak 18 tahun yang lalu, Lukman bersama paman dari istrinya mendirikan perusahaan dengan bendera PT. Sugiron Citra yang bergerak di bisnis pelumas. Selain pernah menjadi distributor tunggal oli POLO dan Total di Indonesia, Lukman juga pernah menjadi distributor oli Shell di Surabaya dan Bekasi. Bahkan sampai sekarang ia masih tercatat sebagai distributor oli Castrol untuk kapal-kapal.
Selain menjadi distributor, Lukman juga bergerak di bisnis pabrikasi tabung LPG, blending plant, niaga BBM dan SPBU di beberapa tempat. Saat ini ia telah mendirikan rest area di jalan tol Jakarta-Cikampek Km 39 dan di jalan tol Kanci-Palimanan Cirebon. Selain diisi dengan fasilitas standar, seperti SPBU, dan Mall, salah ciri khas rest area milik Lukman adalah keberadaan masjid indahnya.
Menurut Lukman, kunci sukses berbisnis adalah tetap dekat dengan Sang Khalik, selalu meminta petunjuk-Nya atas usaha yang dijalani dan banyak bersedekah. Selain itu, tentu saja harus ada self motivation dalam diri. Hal ini penting untuk menumbuhkan kepercayaan diri. ”Kalau di awal saja tidak yakin dengan apa yang dilakukan maka lebih baik tidak usah,” katanya.
Menurut Lukman, ada dua dosa maut yang harus dihapus dalam diri salesman, yaitu ”rasa malas dan takut.” Kalau sudah datang rasa malas, maka jangan harap seorang sales bisa menjual produknya. Selain itu, takut bertemu dengan orang juga penyakit. ”Seorang penjual harus percaya diri untuk bertemu orang dalam menawarkan produk,” katanya.
Dalam berbisnis Lukman memegang prinsip kejujuran. ”Saya punya prinsip kejujuran. Saya tidak segan mengeluarkan orang jika tidak jujur. Berapa kali karyawan yang dikeluarkan karena menyalahgunakan kepercayaan yang sudah saya tanam. Sebab jika ini dibiarkan akan menjadi duri dalam daging,” tegasnya./Fathurroji NK
Percetakan Karya Kita berawal dari satu mesin hand press manual seharga Rp 25 ribu. Kini aset perusahaan milik Syaifullah Sirin ini sudah mencapai angka Rp 150 Miliar per bulan. Bagaimana kiatnya?
Tidak puas bekerja di percetakan milik kakak iparnya, Syaifullah Sirin Dt. Rajo Mangkuto, 63 tahun, memulai karirnya di bisnis percetakan dengan modal satu mesin hand press seharga Rp 25 ribu. Pria yang biasa dipanggil Dato ini memulai bisnisnya sejak tahun 1970-an, tepatnya setelah putus kuliah semester dua di jurusan Ekonomi Universitas Sriwijaya (Unsri).
Kakak Dato, Rozali Usman, kebetulan adalah pemilik percetakan besar Remaja Karya, yang banyak memproduksi buku-buku sekolah, sekaligus mantan Ketua IKAPI. Kendati begitu, Dato tak lantas manja dan bergantung kepada kakaknya dalam mengembangkan bisnisnya sendiri.
“Saya memang dibesarkan oleh kakak ipar, mulai dari SD hingga SMA. Dia adalah guru dalam berbisnis, kakak dalam berkeluarga,” kata Dato yang sekarang menjabat Presiden Direktur Karya Kita Group.
Bagi Dato, berbisnis memang butuh perjuangan dan pengorbanan, karena dari situlah berbagai pengalaman akan mematangkan kemampuan bisnisnya. Ia mengaku kalau dirinya tak memiliki skill khusus, tapi hanya daya juang yang keras, tanpa kenal lelah dalam bekerja.
Walhasil, usaha yang ia rintis tidak sia-sia. Lambat tapi pasti mesin cetak pun bertambah menjadi tiga, karyawan yang awalnya tiga orang juga bertambah. ”Saya sering mengerjakan sendiri karena juga sambil olahraga,” paparnya.
Bagi Dato, tak ada rumus khusus untuk menggaet pasar. Ia mengaku semuanya ia pelajari secara autodidak. “Jiwa entrepreneur orang Minang, kalau sudah bekerja dan melihat peluang ia akan berjuang sendiri,” tuturnya.
Buku yang pertama kali diterbitkan Karya Kita berjudul Demokrasi Pancasila karya Murdani, pada 1978. Selanjutnya, perusahaan ini memfokuskan pada penerbitan buku-buku teks agama Departemen Agama pada 1983.
Debut Karya Kita semakin melaju dengan memasuki bisnis media, yaitu dengan menerbitkan tabloid Salam yang sempat fenomenal di akhir 1980-an hingga awal 1990-an.
Bisnis penerbitan yang mengusung idealisme mencerdaskan bangsa ini menjadi titik awal lahirnya perusahaan penerbitan yang paling diandalkan oleh Karya Kita saat ini, yaitu PT Grafindo Media Pratama pada tahun 1995. Grafindo bergerak di penerbitan buku-buku teks untuk SD, SMP, dan SMA.
Berbagai order buku juga terus mengalir antara lain, dari Diknas. Puncaknya ketika ada bantuan dari Bank Dunia untuk Diknas, Dato menerima USD 1,5 juta atau sekitar Rp 4 miliar (dengan kurs yang masih Rp 2.600,-).
Pada tahun 1997-1998, Dato juga mendapat proyek senilai Rp 49 miliar. Tawaran berikutnya senilai Rp 84 miliar tapi gagal karena adanya krisis ekonomi. ”Karena terjadi krisis dan pergantian personel Bank Dunia di Indonesia. Untuk mencetak 10 juta buku,” kisahnya.
Terkait keputusan Diknas tentang pemberlakuan Buku Sekolah Elektronik (BSE) bagi sekolah, menurut Dato, cukup memberatkan bagi insan percetakan. ”Saat itu banyak penerbitan kolaps, alhamdulillah kami masih eksis,” katanya.
Kini, alhamdulillah, berkat perjuangan yang tak kenal lelah, cabang Karya Kita punya 87 cabang di seluruh Indonesia, kecuali wilayah Irian Jaya dan Maluku. Jumlah karyawan pun sudah mencapai 1000 orang.
Kerja keras dan komitmen dari seluruh karyawan dan manajemen Grafindo juga menghasilkan kepercayaan dari publik maupun pemerintah serta prestasi gemilang. Pada tahun 1998 hingga 2003, Grafindo memiliki stand terbaik pada Pameran Buku dan Pendidikan Anak di Bandung. Stand terbaik pada Indonesian Book Fair tahun 2001 dan 2002. Lolos seleksi penilaian dan pengadaan buku di Timor Leste yang disponsori UNTAET tahun 2000 dan 2001. Serta lolos seleksi penilaian buku Matematika dan Bahasa Indonesia SD tahun 2003 dan 2004 yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Depdiknas.
Tahun 2007 juara II Lomba Cetak di mesin Sheet Printing dengan mat paper dan juara III Lomba Cetak di mesin Web Printing dengan kertas koran yang diselenggarakan oleh Forum Grafika Digital (FGD) bekerja sama dengan Pusat Grafika Indonesia pada FGD Expo.
Saat ini instansi yang telah memercayakan jasa Karya Kita meliputi: PT Telkom, PT Pos Indonesia, PT INTI, Bank BTPN, PT Pupuk Kujang, Dispen Polda Jawa Barat, Departemen Agama, PGRI. Selain itu, Karya Kita juga telah dipercaya mencetak Surat Suara Pemilu 2009. ”Kami terus memberikan yang terbaik untuk customer,” ungkap Dato.
Nakhodai Pembangunan Gontor 15
Setelah Syaifullah Sirin Dt. Rajo Mangkuto mengembangkan bisnisnya, akhirnya tahun 1982 Dato menunaikan ibadah haji—sebagai wujud rasa syukurnya kepada Allah atas limpahan rezeki yang ia dapatkan. ”Saya sadar, godaan paling berat bagi orang yang lebih rezeki adalah cinta dunia,” katanya.
Karenanya tak heran jika dalam setiap doa, Dato selalu bermunajat agar diberi kesempatan beramal saleh. ”Saya selalu berdoa agar diberi kesempatan dan diringankan, diikhlaskan untuk beramal saleh untuk bekal menghadap kepada-Mu ya Allah. Dan rasanya saya merasa lega, menghadapi materi menjadi kecil,” tuturnya.
Kegiatan sosial kerap ia lakukan, bahkan setiap uang yang masuk ke perusahaan 2,5 % wajib untuk zakat, sedangkan 5% untuk infak. Namun seiring perjalanan waktu, nilai 5 % meningkat menjadi 7,5 %. ”Sekarang setiap uang masuk 7,5 % untuk infak. Siapa pun datang ke sini tidak boleh kosong, istilahnya kalau tidak penuh atas maka penuh bawah,” katanya.
Untuk itulah, Dato yang kelahiran tahun 1946 ini mencoba mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat. Salah satunya dengan menjadi Ketua Badan Pembangunan Pondok Pesantren Darussalam Gontor 15 di daerah Sulit Air, Padang, Sumatera Barat.
”Selagi darah mengalir kami bertekad untuk mewujudkan Gontor di Padang. Saya telah mencoba melobi pengusaha dari Timur Tengah ketika di acara di Australia,” semangatnya. Rencananya, anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 20 miliar, ”Untuk masjid saja sekitar Rp 8 miliar. Bangunan kelas ada 3 yang sudah dibangun dan asrama,” terangnya.
Gontor telah lama menjadi alternatif pilihan terbaik para orangtua Sulit Air dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anak mereka. Di antara ribuan alumni Gontor, sekitar 250 orang adalah putra Sulit Air. “Keberadaan Gontor di Sulit Air akan mengubah daerah ini menjadi daerah yang religius dan produsen ulama-intelektual dan intelektual-ulama di Sumatra Barat,” ujarnya.
Rencananya, total anggaran untuk membangun sebesar Rp 24 miliar. ”Pembangunan ini terlaksana tiga tahap, pertama dianggarkan Rp 7 miliar, pembangunan kedua 14 miliar hingga selanjutnya menghabiskan biaya total Rp 24 miliar,” ungkapnya.
Peletakan batu pertama pembangunan Gontor ini dihadiri pejabat pusat maupun daerah, seperti Menteri Kehutanan MS Ka’ban, Gubenur Sumbar H Gamawan Fauzi, Pimpinan Gontor, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, Din Syamsudin, Taufik Ismail sastrawan nasional asal Sumbar, Wakil Bupati Solok, Bupati Padangpariaman dan perantau SAS.
Selain pembangunan Gontor, Dato juga gemar memberikan bantuan pembangunan masjid, madrasah, santunan anak yatim piatu. Bahkan ada beberapa panti yang setiap bulan ia subsidi. ”Saya merasakan nikmatnya tangan di atas. Semoga ini menjadi amal ibadah,” ungkapnya. /fathurroji
Berkah menyeimbangkan antara bekerja dan ibadah. H Bimada berhasil membangun Bakmi Raos dari tiga gerobak menjadi ratusan gerobak yang tersebar di Indonesia. Mendapatkan penghargaan Djie Sam Soe Award tahun 2006 sebagai pengusaha UKM terbaik Indonesia.
Butuh perjuangan dan pengorbanan yang besar untuk sukses. Tak terkecuali di bisnis kuliner mie. Ungkapan yang mungkin terdengar klise itu juga dirasakan oleh H Bimada, pemilik brand Bakmi Raos. Jatuh bangun dalam berbisnis bukanlah cerita yang aneh baginya. Namun keyakinan dan jiwa entrepreneurnya telah membuktikan bahwa sikap pantang menyerah bisa menjadi kunci sukses usahanya.
Memulai bisnis mie-nya pada tahun 2003, Bima—demikian H Bimada akrab dipanggil—mengusung bendera PT Raos Aneka Pangan sebagai wadah usahanya. Selain menyediakan makanan bermutu yang dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat, usahanya ini juga bertujuan untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi para pedagang kecil kaki lima yang ingin sukses bersama.
“Berani Diadu Rasanya” itulah moto Bakmi Raos dalam bersaing dengan bakmi-bakmi lainnya. Untuk itu, penyajian mie yang ia jual pun dibuat semenarik mungkin agar para pelanggan benar-benar menikmati kualitas produknya.
Keberadaan Bakmi Raos bagi Bima bukan sekadar bisnis. Ada semangat spiritual yang mewarnai bisnisnya tersebut. Selain ingin menciptakan lapangan kerja untuk membantu pengentasan kemiskinan, ia juga ingin usahanya menjadi perpaduan antara ibadah dan bekerja.
Karenanya tak heran jika Bakmi Raos mengusung visi menjadi pemimpin dalam usaha makanan dengan membangun manusia yang bertaqwa kepada Tuhan YME—yang semuanya didasari semangat kerja keras dan disiplin tinggi. “Ibadah jangan sampai dilupakan meski bekerja,” tandasnya.
Bagi Bima, rahasia sukses nomor satu dari bisnisnya adalah karena peran Allah SWT. Karena itu, niat atau tujuan yang benar harus menjadi dasar saat berbisnis. Tapi niat saja tidak cukup. Perlu ada pemahaman yang baik tentang bisnis yang dijalani dan network yang luas untuk mengembangkan jaringan bisnis.
Setelah itu, bagi Bima, yang tak kalah penting lagi adalah ikhtiar, yakni berani mencoba dan pantang menyerah. Ia menambahkan, kalau ada kegagalan harus segera dianalisis untuk kemudian dicoba lagi. “Adapun resepnya adalah inovasi dan diferensiasi produk, baru kemudian membangun merk,” paparnya.
Ide bisnis Bakmi Raos ini, menurut Bima, karena ia melihat ada banyak peluang di pedagang kaki lima. Dirinya pernah melihat pedagang dengan pendapatan luar biasa. Sehari keuntungan bisa mencapai Rp 4 juta. Dari sinilah, ia berikir, “Kalau saya bisa mendapat untung bersih 200 atau 500 ribu saja dengan satu gerobak, bisa dihitung berapa yang saya dapatkan kalau punya seratus gerobak. Apalagi kalau sampai bisa seribu gerobak.”
Mengapa bisnis makanan yang ia ambil? Bima menjelaskan makanan sarat dengan inovasi, dan bisnis ini tak akan ada matinya. Selama orang hidup pasti masih membutuhkan makanan, dan mie merupakan makanan kedua setelah nasi. Karenanya, peluang makanan ini sangat besar meski penjualnya juga banyak.
Setelah menekuni beberapa tahun, konsep Bakmi Raos yang awalnya di gerobak dorong, kini sudah berubah. Alasannya kalau memaki gerobak dorong, harga jual sudah dipatok. Sedangkan kalau statis harga jual bisa naik. Selain itu, tidak mudah mengatur pedagang yang mobile dan tidak mudah mengontrol kualitas dan layanannya. “Sekarang kami berada pada sektor agak menengah. Gerobak sudah tidak ada. Semuanya tetap (statis),” ujarnya.
Bisa dibilang, Bima adalah sosok yang ulet dalam menapaki karier bisnisnya. Ia mulai dari tangga paling bawah. Kata orang, pebisnis yang baik adalah yang berangkat dari dasar, lalu naik setangga demi setangga dengan konsisten.
Bima awalnya seorang pekerja di perusahaan freight forwarder di daerah Jakarta Utara. Namun sesuatu mengubah arah hidupnya: istrinya diketahui sakit kanker. “Saya ingin punya lebih banyak waktu untuk mengurus istri saya. Rumah saya di Bintaro harus kerja ke Sunter, coba bayangkan berapa lama,” pintanya.
Tahun 2002 ia mulai mencoba berbisnis. Bersama kakaknya ia ikut sebuah produk franchise dengan mendirikan restoran bakmi. Sayangnya, langkah pertamanya itu langsung tersandung. Restoran franchise-nya bangkrut dalam tempo setahun.
Gagal di franchise ia membuka gerobak mie ayam di Villa Bintaro. Usaha ini dalam tiga bulan kemudian bangkrut juga. Padahal ia sudah kursus membuat mie di beberapa tempat. Meski gagal di mie ayam, ia masih memikirkan usaha sejenis. “Saya memang ingin memiliki usaha di makanan,” katanya.
Tiba-tiba ada seorang teman yang menawarinya resep membuat bakmi. Resep inilah yang jadi cikal bakal Bakmi Raos.Setelah merasa cocok, Bima pun merekrut orang-orang yang mau berjualan bakmi dengan gerobak. Mula-mula ia berjualan dengan tiga gerobak bermodalkan Rp 10 juta.
Sistemnya, ia mendapat margin Rp 1.500 per mangkok bakmi yang terjual. Sedang pedagangnya Rp 1.000 dari harga Rp 6.000 per mangkok. Jika sehari terjual 40 mangkok, maka dalam sebulan (dihitung 25 hari) si pedagang bisa mendapatkan Rp 1 juta. Tentu saja ini menggiurkan, apalagi Bima juga menyediakan fasilitas penginapan dan uang makan. Dengan kata lain, pendapatan si pedagang jadi utuh.
Pola usaha itu akhirnya berkembang. Dari tiga gerobak bertambah menjadi sepuluh gerobak. Dan dalam tempo setahun ia sudah memiliki 193 gerobak. Jumlah pedagang yang dilatihnya mencapai 700-an orang. Namun dari jumlah itu sebagian besar mengundurkan diri. “Saya melihat kualitas jiwa wirausaha bangsa ini memang sangat lemah,” katanya.
Para pedagang kecil yang ia bina kebanyakan berasal dari Cirebon dan Sukabumi. Sekali datang mereka bisa 10 hingga 15 orang. Semuanya menginap di tempat yang telah disediakan Bima. Namun sayang, sebagian dari mereka justru hanya numpang tidur dan memilih berjualan rokok di Blok M. “Mereka kurang bersyukur dan belum bisa melihat peluang kesempatan usaha yang kami berikan,” ujarnya.
Akhirnya, model yang ia jalani bersama para pedagang kecil ini tidak bertahan lama. Bima pun memilih untuk membangun usahanya secara profesional. Ia tidak lagi bisa mengandalkan para pedagang yang tidak serius. Akhirnya produk bakminya pun ia waralabakan.
Bima membangun pola kemitraan. Dengan pola ini ia tak perlu menggaji mereka. Mitranya cukup membeli mie dan minyak goreng darinya plus gerobak yang ia rancang. Kemitraan ini hingga menghasilkan jaringan mitra di mana-mana.
Setelah semakin menjamurnya model franchise makanan. Akhirnya Bima pun menambah varian produknya. Kini, ia juga menghadirkan masakan dengan nama Bakmie Mada. Produk ini menyajikan tiga makanan dalam satu gerobak, yakni Mie Ayam, Bakwan Malang dan Siomay Bandung. Untuk produk ini, Bima mematok harga Rp 25 juta untuk investasinya.
Bukan Bima jika tak berinovasi. Ia pun kini mulai merambah makanan terkenal dari Madura yakni sate. Untuk produk ini, ia memberikan brand dengan nama Sate Sambas. Di dalamnya juga ada tiga makanan dalam satu gerobak atau 3 in 1, yaitu Sate, Soto dan Es Campur. Biaya investasi produk ini mencapai Rp 28 juta./Fathurroji NK
Sejak kecil ia sudah gantungkan cita-cita menjadi pengusaha, bukan pegawai. Dengan penuh tawakal kepada Allah, ia jalankan semua usahanya hingga sukses. Memiliki 32 perusahaan tak membuat lelaki kelahiran Sumatera Barat ini melupakan Allah SWT. Bahkan, semakin sukses, ia merasa semakin dekat kepada Sang Khaliq. Begitu sikap H Emil Abbas MBA PhD, presiden direktur PT EASCO (holding) yang membawahi puluhan perusahaan ini.
Selama 28 tahun, ia bangun kerajaan bisnisnya dengan kerja keras. Tapi tahun ini ia harus melengserkan diri karena usia kian senja. Saat transisi inilah Emil dihadapkan tuntutan untuk memutuskan hal paling sulit dalam hidupnya, memberhentikan beberapa karyawan dari posisi penting mereka.
Hanya munajat kepada Allah pilihannya. Usai bermunajat, ayah lima anak ini ditunjuki Allah mengimplementasikan firman-Nya dalam surah an-Nûr [24] ayat 1-3 yang mendorongnya untuk mengambil tindakan tegas. ”Segala yang saya lakukan semuanya karena Allah, bukan karena siapa-siapa. Kita manusia dha’îf, semuanya harus kita gantungkan pada Allah,” tandas Emil saat ditemui Majalah Gontor di ruang kerjanya.
Dalam kondisi apapun, Emil selalu menyerahkan segalanya kepada Allah. Menjadi owner perusahaan, bukan berarti dirinya dapat berkuasa seolah yang menentukan segalanya, atau seenaknya menggunakan kekuasaan. ”Saya tak punya kekuasaan apa-apa kecuali atas ridha Allah,” tuturnya merendah.
Suatu ketika, saat akan menjalankan sebuah proyek, ia diundang bertemu pimpinan sebuah bank nasional yang akan membantu membiayai proyeknya. Sehari sebelum pertemuan, ia bermunajat dengan melakukan shalat hajat. Ia adukan segalanya kepada Allah, apakah proyek yang akan dijalankan bakal memberi kebaikan atau malah sebaliknya.
Usai shalat, Emil mengambil al-Qur’an saku ukuran 10x15 cm yang biasa menemaninya setiap kali bersimpuh di hadapan Allah. Tiba-tiba telunjuknya mengarah pada surat al-Baqarah ayat 265, ”Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”
Hati Emil plong. Ia yakin, dengan Kuasa-Nya, Allah telah meridhai apa yang bakal ia lakukan. ”Saya seperti keluar dari rasa gundah. Keteguhan saya untuk melanjutkan proyek semakin mantap,” kenangnya. Pengusaha yang terjun di berbagai bisnis seperti supporting minyak dan gas, keuangan, pertanian, kehutanan, kelautan, kontraktor, properti, hingga pendidikan itu, beranggapan semua yang ia dapat hanya titipan Allah yang kelak pasti akan kembali kepada-Nya.
Selama berbisnis, Emil yakin, seberat apapun sesuatu yang ia alami dan orang lain melihatnya sebagai suatu ujian, ia justru menilai semuanya sebagai nikmat. Karena segalanya pasti memiliki hikmah, dan Allah tentu memunyai tujuan dari setiap kejadian yang digariskan-Nya. ”Ujian, senang, atau susah, sebenarnya hanya sebutan. Ibarat kita berjalan, banyak tikungan dan ada rambu-rambunya,” ujar pria kelahiran Kuranji, 16 Desember 1957, itu.
Buah kerja keras
Bagi Emil tak ada kata malas dalam menjalankan usaha. Maka sejak sekolah, ia sudah menggantungkan cita-cita menjadi pengusaha, bukan pegawai. Janji di hati kecil Emil ini didukung motivasi dari orangtuanya yang bekerja sebagai penilik guru. Orangtuanya kerap membangun imajinasi Emil menjadi pengusaha sukses dengan menceritakan kisah-kisah orang sukses dalam bisnis. Perlahan jiwa wirausaha Emil mulai terbangun.
Seperti kebanyakan orang Minang yang gemar merantau, usai lulus sekolah Emil langsung hijrah ke Kalimantan Timur. Tak ada kesempatan untuk bermanja-manja. Di rantau, ia harus mandiri berjibaku mengadu nasib demi masa depannya sendiri.
Empat tahun pertama di negeri jamrud katulistiwa itu, Emil banyak menimba ilmu bisnis. Mulai dari cara mendirikan perusahaan, mengatur usaha, hingga model keuangannya. ”Dari beberapa perusahaan yang saya masuki, intinya saya ingin belajar,” ujar suami Risma itu. Ia pernah bekerja di perusahaan supplier, general trading, peralatan rumah tangga, material bangunan, alat tulis kantor, kontraktor, obat-obatan, bahan makanan, dan lain-lain.
Yang paling mengesankan hatinya adalah saat bekerja sebagai developer yang banyak bersinggungan dengan kontraktor perminyakan di Kalimantan. Tahun 1981 Emil mencoba mendirikan bisnis sendiri di pulau kaya minyak itu dengan bendera PT Ranji Karya Sakti. Karena bidang penambangan dan perminyakan merupakan usaha padat karya, tak heran jika di awal-awal berdiri, perusahaannya itu sudah harus mempekerjakan sedikitnya 100 orang. Dari usaha inilah pengembangan bisnis Emil lainnya bermula. ”Alhamdulillâh, sampai sekarang masih eksis,” ujarnya.
Ketika krisis moneter 1997 terjadi, banyak perusahaan mem-PHK karyawannya. Namun usaha Emil malah tengah booming, bahkan ia terus merekrut karyawan dan menambah gaji mereka. Maklumlah karena income perusahaannya banyak dalam hitungan dolar Amerika. Krisis menjadi hikmah tersendiri bagi Emil dan perusahaannya. Karenanya ia yakin bahwa semua itu karena ada campur tangan Yang Mahakuasa.
Sebagai pengusaha pribumi yang aktif dalam bisnis eksplorasi sumberdaya alam (SDA), Emil miris melihat kekayaan bangsa ini justru lebih banyak dieksploitasi investor asing. Emil sadar bisnis pertambangan memang butuh modal besar dan teknologi tak sederhana. Sementara modal keuangan, SDM, dan teknologi bangsa ini masih rendah. Jalan terbaiknya, menurut Emil, membatasi keberadaan perusahaan asing, maksimal boleh beroperasi 30 tahun pertama saja, tanpa boleh diperpanjang. Selebihnya serahkan kepada perusahaan nasional.
Ia merasa berkepentingan mengangkat anak negeri. Komitmen ini ia buktikan dengan memberdayakan semua bisnis pertambangannya untuk digarap anak negeri. Tak ada seorang pun karyawan asing. ”Saya tak punya budaya menghimpit kepala harimau. Kecil-kecil merdeka. Dan mereka tidak kalah dengan asing,” tegas Emil.
Selain peduli SDM lokal, sebagian hasil ladang bisnisnya ia gunakan untuk membangun sarana pendidikan. Salah satunya Islamic International Boarding School (IIBS). Sebagai anak yang dibesarkan keluarga guru, ia ingin di usianya yang ke 52 ini dapat mulai mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Maka segera ia mendirikan sebuah pesantren yang sangat unik di Jakarta. Lokasinya di apartemen Casablanca dan Puri Casablanca, Jakarta Selatan. Ia ingin menarik kalangan menengah ke atas untuk belajar di pesantren.
Pioner asuransi syariah
Sekitar 15 tahun lalu, ketika lembaga permodalan di negeri ini masih menjadi menara gading, Emil telah merintis lembaga keuangan bernama Asuransi Mubarakah. Bagi Emil, lembaga keuangan yang banyak menghimpun dana masyarakat selayaknya dikembalikan kepada masyarakat melalui investasi. Jika ini dilakukan, maka perputaran ekonomi yang besar akan terbangun. Dengan sendirinya masyarakat akan mendapat lapangan pekerjaan dan penghasilan. ”Dulu bank biasanya hanya memberi pembiayaan kepada kalangan yang sudah kenal saja,” katanya.
Dengan mengusung moto ”Dari Umat untuk Umat”, ia coba mendirikan perusahaan asuransi ini dengan modal awal Rp 2 miliar pada 18 Oktober 1993. Seiring waktu, Mubarakah mencatat sejarah sebagai perusahaan asuransi nasional syariah pertama di Indonesia. Emil pun didaulat MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai pengusaha nasional pertama pendiri perusahaan asuransi nasional syariah.
Kini, perusahaan itu telah memiliki 30 kantor layanan yang tersebar di 22 provinsi. Bahkan, Mubarakah secara resmi dinyatakan sebagai penyelenggara layanan Asuransi Jiwa Jemaah Haji Indonesia tahun 2008. Bersama perusahaannya ia ingin membangun ekonomi umat Islam menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr dan menjadikan Islam sebagai rahmatan lil-’âlamîn.
Background ilmu memang pertanian, tapi itu bukan kendala karena semua bisa dipelajari. Kini ia menjadi orang nomor satu di BNI Syariah. Bagaimana langkahnya? Berikut kisahnya.
Lewat tangan kreatif Ismi Kushartanto, pertumbuhan BNI Syariah melejit. Bayangkan, sebelum ia menahkodai BNI Syariah asetnya hanya Rp 1,7 triliun selama 7 tahun. Kondisi ini berubah hampir dua kali lipat atau Rp 3,1 triliun hanya dalam kurun 10 bulan. Sebuah langkah maju.
Bagi Ismi, BNI Syariah memiliki banyak kelebihan di banding bank syariah lain. Pertama karena jaringannya cukup banyak menyebar di seantero Nusantara, selain itu produknya cukup berfariasi. Potensi inilah yang dibidik Ismi untuk melakukan percepatan dalam menggenjot pertumbuhan BNI Syariah.
Ismi bersama seluruh kru bertekad merubah image BNI Syariah. Tak tanggung-tanggung target pertumbuhan yang dicanangkan Ismi yaitu 100 persen selama setahun. Ismi dan timnya pun berjibaku menyosialisasikan BNI Syariah ke customer. Layanan ke customer pun terus mengalami peningkatan yang signifikan.
Tak ringan memang tugas meyakinkan customer untuk memilih BNI Syariah. Butuh semangat tinggi dan daya juang besar. Alhasil, kurun waktu 10 bulan, BNI Syariah syariah telah memiliki aset 3,1 triliun. Artinya, 73 persen target telah terpenuhi atau naik 1.4 triliun. “Semua memang kerja tim mas,” tuturnya saat ditemui di kantornya.
Baru memasuki tahun kedua ia menjabat sebagai Pemimpin Divisi BNI Syariah, ia mulai melakukan inovasi produk, di antaranya dengan meluncurkan Hasanah Card. Rencananya, Hasanah Card akan terbit dalam tiga jenis: green, gold, dan platinum. Masing-masing jenis didasarkan pada tingkat kemampuan calon pemegang kartu dalam melunasi pembiayaan kartu kredit syariah. Dalam tahun pertama, diharapkan Hasanah Card bisa menjaring 60 ribu pemegang kartu kredit syariah.
Dalam pemasaran, BNI Syariah akan memanfaatkan jaringan kantor cabang syariah dan konvensional yang menerapkan layanan syariah (office channelling) yang jumlahnya mencapai ratusan 54 outlet syariah dan 647 outlet office channelling.
BNI Syariah kemungkinan akan lebih fokus memasarkan kartu kredit syariah jenis gold dan platinum. Alasannya, karena calon pemegang kartu kedua jenis tersebut memiliki tingkat kemampuan membayar pembiayaan cukup tinggi. berikutnya pasar yang umumnya menggunakan kartu kredit untuk memudahkan transaksi pembayaran.
Sebagai pimpinan, suami dari Sri Heri Susilowati ini terus memberikan motivasi kepada karyawannya untuk bekerja semangat. Apalagi pekerjaan di BNI Syariah tak sekadar bekerja tapi ada nilai-nilai ibadah di dalamnya. “Kerja harus luar biasa dan bukan biasa saja. Sebagaimana Rasul bekerja luar biasa,” paparnya.
Akhir tahun 2008, BNI Syariah telah memiliki sekitar 300 ribu nasabah. 40 ribu nasabah pembiayaan dan 260 nasabah funding. Sedangkan total aset dana pihak ketiga mencapai 2,8 triliun, hal ini mengalami peningkatan di banding tahun sebelumnya yang hanya 1,6 triliun. ”Perkembangan baik ini sejalan dengan makin sadarnya masyarakat terhadap perbankan syariah,” ungkapnya.
Setelah hampir 8 tahun BNI Syariah berdiri, tahun 2009 BNI Syariah akan mencoba melakukan langkah berani yaitu spin off, yaitu memisahkan diri dari induk semangnya, BNI.
Persiapan spin off memang sudah lebih dari satu tahun. Prosesnya tidak mudah, perlu persiapan yang matang untuk bisa pisah dengan induknya. Saat ini, menurut Ismi, sudah melakukan negosiasi dengan Islamic Corporation for the Development of the Private Sector (ICD) anak perusahaan Islamic Development Bank (IDB). “Insyaallah pertengan tahun ini (2009-red) sudah bisa terlaksana, doakan,” paparnya.
Dari Pertanian ke Bankir
Ismi Kushartanto muda memang anak cerdas. Tak heran jika ia mendapatkan program perintis dua dari Institut Pertanian Bogor. Seleksinya cukup ketat, yaitu nilai rapot mulai dari SD hingga SMA harus bagus. Mujur, anak buah hasil cinta Ismaun (alm) dengan Kasnihani ini berhasil mendapatkan kesempatan belajar gratis tahun 1977. Masuk tanpa tes, buku gratis, dan fasilitas serta kemudahan lain ia dapati.
Di IPB ia mengambil Jurusan Agronomi, tentang tanaman. Tahun 1982, ia berhasil menjadi alumni IPB. Tak terbayang saat itu ia akan menjadi seorang bankir. Pasalnya awal bekerja ia menjajaki di perusahaan United Tractor. Selama masa training, ia mendengar ada lowongan pekerjaan di Bank Exim. Pilihan pun mengarah ke perusahaan bank. “Saat itu portfolio bank exim sedang pengembangan kebun akhirnya banyak mengambil orang pertanian,” kisahnya.
Setahun bekerja di bank Exim di biro kredit perkebunan, ia pun terpilih untuk melanjutkan belajar di luar negeri untuk menyabet gelar MBA di Universitas Colorado Denver, Amerika Serikat.
Sekembali dari AS, ia pun mendapatkan amanah untuk masuk di wilayah korporasi dan menjabat Kepala Dinas Divisi Penyelamat Kredit. Kebetulan saat itu bank tempat ia bekerja berencana merger dengan bank Mandiri.
Prestasi kerja Ismi memang cukup baik, tak heran jika ia kerap mendapatkan jabatan sebagai kepala divisi. Menurut Ismi, semua itu karena dalam bekerja ia selalu berupaya lebih siap di banding teman lainnya. Misalnya, ia datang lebih awal. Bahkan diawal-awal bekerja, ia datang sebelum gerbang kantor dibuka petugas. Kesempatan itu ia gunakan membaca koran untuk menambah wawasan.
Ketika merger bank antara Bank Dagang Negara, Bank Exim, Bapindo dan Bank Bumi Daya menjadi Bank Mandiri, Ismi tak ikut mencari posisi. Pasalnya, saat itu ia sudah terdaftar sebagai calon jamaah haji. Mau tak mau posisi menggiurkan itu pun terlewatkan. ”Saya yakin Allah sudah mengatur semuanya,” tuturnya.
Jalan itu Bank Syariah
Sepulang dari Tanah Suci, tak ada lagi posisi buat mantan Kepala Biro Penyelamatan Kredit Bank Exim ini. Namun, tidak berarti karier Ismi mentok. Tak lama kemudian tawaran datang dari bank lain. Saat itu, Bank Mandiri punya hajatan mendirikan Bank Syariah Mandiri (BSM). Lantas, Ismi diminta menjabat Direktur Operasional, Compliance & Risk Management BSM. Tanpa ba-bi-bu tawaran itu langsung ia sambut. Itulah titik balik karir bankir mulai menikung ke syariah.
Bank syariah kedua setelah Bank Muamalat ini cukup berkembang lewat tangan dingin Ismi dkk. Akan tetapi, ia tak bisa berlama-lama, karena dua tahun kemudian ia ditarik ke Ban Mandiri Konvensional. Tak tanggung-tanggung, posisi yang ditawarkannya pun cukup bergengsi yaitu Vice President Portofolio dan Risk Management bank terbesar di Indonesia itu.
Ada yang kurang sreg di hati Ismi ketika harus pindah tugas. Pasalnya, selama itu ia mengajak orang untuk memilih bank yang sesuai dengan syariah. Bahkan ia sudah banyak belajar tentang bank syariah terutama hukum-hukum dalam Islam. Kondisi ini semakin membuatnya gelisah "Saya kok merasa enggak pas lagi duduk di bank konvesional," katanya terus terang.
Melalui proses yang tak mudah, Oktober 2002, ayah tiga putri ini menemukan wadah baru yaitu Bank Internasional Indonesia (BII) yang tengah berencana mendirikan bank syariah. Meski masih bekerja di Mandiri, Ismi kemudian diangkat menjadi advisor atau staf ahli direksi BII dalam urusan tersebut. Sejak saat itulah pehobi bercocok tanam ini mulai merumuskan konsep dan strategi pengembangan bank syariah di BII.
Dalam sebuah pertemuannya dengan kawan-kawan, yang diinginkan mereka saat itu bukan sekadar bank syariah, karena bank-bank lain pun sudah masuk ke bisnis ini. Tapi bank syariah yang berkelas dan beda. Sebagai orang yang sudah banyak makan asam garam perbankan konvensional, Ismi tahu pasti, banyak nasabah berdana besar menginginkan pelayanan syariah. Sementara itu, dalam pelayanan, orang-orang berduit itu juga menuntut servis sekelas private banking, seperti laiknya Mandiri Prioritas, Citi Gold dan BNI Prima.
Tahun 2003, bank syariah yang jadi target lahir dengan bendera BII Syariah Platinum (BII SP). Bank syariah yang satu ini terang-terangan membidik nasabah kelas premium sebagai target pasarnya. Akhirnya, Ismi pun pamit dari Mandiri hijrah menjadi Kepala Divisi BII SP.
Setelah lima bulan operasional, selain kantor pusatnya di Jl. M.H. Thamrin, Jakarta, BII SP juga memiliki cabang baru di Menara Mulia, Jl. Jend. Gatot Subroto. Bank ini juga berhasil menjaring 230 nasabah premium. Asetnya mencapai Rp 116 miliar, sedangkan dana pihak ketiga yang berhasil diraup sudah di atas Rp 50 miliar. Tentu patut dibanggakan, karena untuk menyedot dana pihak ketiga sebesar itu bank lain butuh waktu bertahun-tahun.
Dari BII SP ini, nasabah premium mendapatkan berbagai benefit, antara lain, executive lounge gratis di bandara, langganan majalah pilihan, Al-Quran seluler, belajar Al-Quran, ikut pengajian dai terkenal, gathering, customer retention dan program loyalitas. Setiap nasabah, dijelaskan Ismi, memperoleh financial advisor. Kantornya pun didesain cukup mewah dan dibuat senyaman mungkin.
Tak hanya itu, nasabah BII SP juga bisa menggunakan semua fasilitas yang dimiliki induknya, seperti layanan ATM, cash machine deposit, kartu BII Musafir Platinum dan transaksi online bebas biaya. "Bank syariah bisa sukses kalau memiliki nilai kekhasan dan strategi minimal sama dengan produk yang ditawarkan bank konvensional," Ismi menandaskan.
Bukan Ismi kalau tidak suka tantangan. Setelah menjabat selama dua tahun di BII SP, ia pun mendapatkan tawaran untuk mengelola Bank Permata Syariah ketika pembukaan pertama. Saat memimpin Bank Permata Syariah ia membuat gebrakan office chanelling (OC). Selain itu ia menjadi bank syariah yang memiliki layanan elektronik banking terdepan.
Menutur Ismi sebagai follower di perbankan syariah, Permata menyadari perlu adanya diferensiasi yang kuat agar produknya diminati nasabah. Unit perbankan syariah Permata ini juga memiliki layanan mobile banking, Internet banking, bahkan mobile cash.
Dua tahun berjalan, Ismi pun mendapat tawaran menarik lagi dari bank besar di Indonesia yaitu BNI Syariah. Kini ia menjabat sebagai Pemimpin Divisi BNI Syariah. ”Tugas ini adalah amanah harus dijalankan dengan benar,” katanya.
Dengan jaringannya yang luas, ia menjadi ujung tombak pengembangan fisik pondok. Jargon utama dakwahnya: Perang terhadap narkoba dan pergaulan bebas.
Dalam tradisi masyarakat Jawa Timur, keluarga kiai, termasuk anak keturunannya sangat dihormati. Tak jarang ada anak kiai agak ditabukan sembarang berbaur dengan “masyarakat umum”, seperti santri, misalnya. Berbeda dengan Hizbiyah Rochim MA. Meski putri kiai, di masa kecil Hizbi tak segan-segan berkumpul atau bermain dengan para santri. Ia bahkan suka masak nasi bersama para santri perempuan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, saat mengisi senggang libur malam Jumat.
Selain kumpul-kumpul bersama kawan, Hizbi juga senang //nguping// perbincangan ayahnya dengan para tamu di ruang //mbale// (ruang lapang khusus tamu). Ibunya kerap memergoki dan melarang. //”Iki dudu urusanmu ayo nang buri,// (Ini bukan urusanmu, ayo ke belakang),” tiru Hizbi. Kesenangannya berkumpul dan bertemu banyak teman itulah yang kelak mengantarkan Hizbi sukses masuk ke panggung politik nasional.
Putri penggagas dan penggerak Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Chasbullah ini, sejak remaja memang sudah aktif berorganisasi. Tak heran, jika kesehariannya kini sangat padat dengan aktivitas sosial di berbagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Kendati //super// sibuk dengan tugasnya sebagai anggota DPRD DKI Jakarta, dan telah didaulat menjadi calon anggota legislatif (Caleg) daerah pemilihan (Dapil) delapan Jawa Timur, ibu dua anak ini tak abai dengan tugas pengasuhan Pesantren Putri Al-Lathifiyyah 1, Jombang, yang diembannya.
Bersama sang kakak, Machfudhoh Aly Ubaid, ia berjibaku membagi tugas mengasuh 600 santri tanpa kenal lelah. Karena menetap di Jakarta, wanita kelahiran Jombang, 5 Juni 1947, ini diberi peran sebagai ujung tombak pengembangan fisik pondok. Dengan jaringannya yang luas, ia intensif melakukan lobi.
Walau jauh dari pesantren asuhannya, komunikasi dengan kakak maupun para penanggung jawab pendidikan di pondok tak pernah putus. Bahkan setiap dua minggu, Hizbi selalu menyempatkan diri kembali ke pesantren, memantau perkembangan pendidikan para santri. Saat berada di pesantren, ia selalu menyempatkan diri menjadi imam jamaah shalat para santri putri dan memberi //tausiyah//. Terutama tentang pentingnya peran perempuan dalam hidup berkeluarga dan bermasyarakat.
Dalam setiap //tausiyah//nya Hizbi selalu menyisipkan pesan tentang tantangan yang akan dihadapi para kader umat di era globalisasi. Khususnya bahaya narkoba dan pergaulan bebas yang tengah marak di masyarakat.
Di tangannya, Al-Lathifiyyah terus berproses meningkatkan kualitas pendidikannya. Selain belajar di kelas formal pagi hari, para santri diberi tambahan materi keagamaan di malam hari dan setelah Shubuh. Mereka juga diajarkan keterampilah bahasa dan kewanitaan, di samping pendidikan praktis mengelola keuangan usaha. Semua santri yang hampir lulus diberi kesempatan bergabung di bagian koperasi untuk belajar mengelola keuangan.
Untuk meningkatkan kualitas pengajaran, pesantrennya tengah menyiapkan sistem penggajian rutin bulanan bagi para guru, di samping menyediakan fasilitas rumah dinas agar mereka dapat nyaman mengawasi jalannya pendidikan. “Dengan komunikasi intensif, walau saya berada di Jakarta, kepemimpinan di pondok tidak pernah kosong,” tutur istri almarhum Drs KH Abdul Rochim Hasan Hizbi ini.
Aktivis Muslimah
Selain mengasuh pesantren, Hizbi kini juga aktif menjadi Ketua Majelis Zikir HIDMAT Muslimat NU Pusat. Perkenalannya dengan dunia organisasi dimulai sejak ia menamatkan pendidikan tingkatibtidaiyah di pesantrennya tahun 1960, lalu lima tahun Sekolah Guru Agama (SGA) di Solo. Saat belajar di SGA, Hizbi tak ikut aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Tahun 1968 ia hijrah ke Jakarta dan melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Di kampus itu ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Bagi Hizbi, organisasi merupakan lahan untuk belajar bermasyarakat. Melalui organisasi, ia mengenal banyak kawan. Berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan ia ikuti, termasuk organisasi NU. Sebagai anak salah seorang penggagas NU, ia dituntut mampu memberi teladan positif bagi anggota Ormas terbesar di Nusantara ini. Dan pada 1984 ia dipercaya menjadi Ketua Fatayat NU DKI Jakarta selama dua periode.
Kiprahnya mengembangkan organisasi NU, cukup membuat dirinya percaya diri untuk masuk ke dunia politik. Dengan kendaraan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ia melenggang menjadi anggota DPRD DKI Jakarta selama empat periode.
Dalam setiap kesempatan, Hizbi sangat gigih berpesan agar para mubalighah tak henti menyuarakan perang terhadap narkoba dan pergaulan bebas. Menurut Hizbi, zaman ini penuh bahaya. Karena perubahan-perubahan yang terjadi di era reformasi ini kerap kurang terkontrol, ditambah minimnya perhatian orangtua terhadap pendidikan agama generasi muda. Agar mereka bisa terkendali, nilai-nilai dasar agama harus ditanamkan. Yang ironis, lanjut Hizbi, korban narkoba dan pergaulan bebas mayoritas dari kalangan keluarga tak mampu.
Pesan dakwah ini juga selalu ia sosialisasikan di pesantren. Informasi terkini seputar bahaya narkoba tak bosan ia sampaikan kepada para guru dan santri. Sebagai seorang nyai, ia sadar harus terus mengikuti perkembangan terkini bangsa.
Menurut Hizbi, nyai tak boleh ketinggalan mengikuti perkembangan aneka informasi. Ketika memberi //tausiah//, nyai dituntut untuk dapat menyampaikan hal-hal terbaru yang mencerahkan. ”Jangan hanya bisa menjadi imam dan mengisi pengajian saja,” tandasnya.
Selain aktif di kepolisian, Mas Dar juga aktif di masjid. Baginya masjid bisa mendekatkannya dengan Tuhan dan masyarakat. Berikut kisahnya dari Jogjakarta.
Jalan Malioboro di jantung kota Jogjakarta adalah saksi bisu perjalanan Sudaryanto menjadi seorang polisi. Sebuah poster lowongan menjadi polisi yang di tempel di jalanan itu mengantarkannya menjadi seorang polisi sungguhan.
Ceritanya, seusai belajar Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), Sudaryanto ikut membaca poster lowongan polisi itu. Setelah itu, dengan semangat penuh harap ia menemui orangtuanya untuk menyampaikan hasratnya menjadi polisi. “Alhamdulillah orangtua setuju,” ujar lelaki kelahiran Sleman, 20 Maret 1958 ini.
Kesempatan tak datang dua kali. Mas Dar, demikian Sudaryanto akrab dipanggil, langsung menyiapkan segala persyaratannya. Berbekal ijazah Pendidikan Guru Agama (PGA) saat itu, Mas Dar mengirimkan lamaran menjadi polisi. Akhirnya, setelah seleksi, Mas Dar pun dinyatakan lulus.
Kebahagiaan dan kegembiraan menyelimuti ratusan peserta yang saat itu mendaftar menjadi polisi. Tak terkecuali Mas Dar. Awalnya tak pernah ia berkeinginan menjadi polisi. Ia hanya ingin mendalami dunia peradilan. Tapi nasib berkata lain, poster di jalan Malioboro membawanya ke dunia polisi.
Setelah lulus ujian, Mas Dar digembleng di wilayah Mojokerto, Jawa Timur, tepatnya di Pusdik Brimob selama enam bulan. Di situ ia banyak belajar bagaimana menjadi seorang guru untuk para polisi. Kebetulan, sekolah yang ditekuni sebelumnya adalah sekolah guru, jadi ia tidak merasa canggung saat mengajar di depan para polisi. “Keluarga saya keluarga guru mas,” ungkapnya.
Latar belakang sebagai guru membuatnya semakin mantap melangkah menapaki karir di kepolisian. Melakukan presentasi atau memaparkan materi di bangku belajar sudah menjadi bidang Mas Dar.
Selama 10 tahun, mulai tahun 1980 hingga 1988 Mas Dar menikmati pekerjaan sebagai guru bagi para polisi. Untuk memantapkan karirnya, ia pun mengambil pendidikan perwira di Sukabumi, Jawa Barat.
Setelah beberapa tahun menjalani pendidikan, ia pun dipindah tugas ke Polda Jawa Timur untuk menjadi auditor kepolisian. Tugasnya mengaudit operasional dan mengevaluasi program-program yang dijalankan Polwil Jawa Timur.
Mulai tahun 1989 hingga 2004 Mas Dar aktif menjadi auditor. Seperti polisi lain, pindah tugas adalah hal yang wajar. Sejak tahun 2004, ia pun diberi amanah menjadi Wakil Kepala Polres (Wakapolres) Sumenep, Madura, selama 3 tahun.
Kesempatan menjadi Wakapolres pun tak ia sia-siakan untuk menunjukkan kinerjanya dalam menciptakan keamanan dan ketertiban di masyarakat. Baginya, amanah yang ia dapat merupakan tanggung jawab yang harus ia jalankan dengan sebaik-baiknya.
Meski hanya tiga tahun, Mas Dar tak merasa dibatasi oleh waktu untuk menjalankan tugas utama kepolisian. Saat menjadi pejabat maupun tidak, ia tetap menjaga nama besar korps kepolisian.
Dalam menjalankan tugasnya, Mas Dar selalu menggunakan pendekatan persuasif untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di masyarakat. Menurut Mas Dar, cara itu lebih efektif dan menjauhkan dari rasa kebencian dan anarkisme.
Untuk bisa lebih mengayomi masyarakat, Mas Dar tak segan-segan terjun langsung dalam kegiatan kemasyarakatan. Misalnya mengikuti pengajian, shalat Jumat di masjid yang berbeda-beda dan kegiatan masyarakat lainnya. “Saya berusaha untuk mengenal masyarakat melalui kegiatannya,” katanya.
Mas Dar menyadari, sebagai polisi terkadang ada orang yang suka atau tidak suka. Karena itu, dirinya harus pandai memosisikan diri di masyarakat. Tampil apa adanya dengan sikap yang sewajarnya adalah modal utama untuk bisa dekat dengan masyarakat.
Seorang polisi bukan malah menjaga jarak dengan masyarakat. Karena tugas polisi senantiasa melindungi, mengayomi dan melayani dengan ikhlas untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban di masyarakat.
Saat menjabat sebagai Wakapolresi di Sumenep, ia sadar kalau masyarakatnya memiliki karakter keras khas Madura. Kendati demikian, ia tak mempersoalkan di mana daerah ia bertugas. Karena semua itu tergantung pendekatan polisi kepada masyarakat yang diayominya.
Salah satu langkah yang ditempuh Mas Dar adalah dengan cara bersilaturahmi dengan para kiai di pesantren-pesantren. Hal ini karena sosok kiai di Madura memiliki pengaruh penting di masyarakat.
Sebagai seorang polisi, setiap menjalankan tugas harus sesuai dengan amanat undang-undang. Misalnya ketika menyelesaikan sebuah masalah di masyarakat, ia tidak boleh melakukan tindakan gegabah yang bisa menimbulkan masalah baru. Semua permasalahan diselesaikan melalui aturan yang ada.
Contoh lain, ketika ada kasus pencairan BLT di Sumenep. Sejumlah pendemo yang mengatasnamakan Pemuda Peduli Desa Sera Tengah Kecamatan Bluto menuntut penyelesaian kasus itu secepatnya. Akhirnya, perwakilan pendemo diizinkan masuk menemui dirinya.
Dalam tatap muka itu, Mas Dar menyatakan bahwa dalam menyelesaikan kasus itu, aparat Kepolisian tidak bertindak gegabah, tapi harus mengikuti aturan yang ada. Karena itu, pemrosesan kasus BLT ini, tidak bisa dilakukan dalam hitungan hari, mengingat aparat masih memerlukan data yang valid.
Dan masih banyak permasalahan yang memerlukan penanganan persuasif. Setiap tugas yang ia jalani memiliki konsekuensi dan risiko. “Semua ada hikmah yang harus diambil dari setiap kejadian,” paparnya.
Aktif menjadi Takmir Masjid
Selain menjadi seorang polisi, Mas Dar juga sosok yang agamis. Hal ini bisa dilihat dari aktivitasnya sehari-hari. Selain menjadi auditor di Polda Jatim, ia juga aktif sebagai pengurus Masjid Al-Ikhlas di Wisma Trosobo Taman Sidoarjo.
Selama aktif di masjid, ia merasa lebih dekat dengan masyarakat. Selain itu, juga semakin bertambah ilmunya mengenai Islam. Dekat dengan kegiatan masjid menjadikan dirinya juga tenang dan dekat dengan Sang Khalik.
Kedekatannya dengan masjid sebenarnya merupakan buah dari masa lalunya. Mas Dar kecil ternyata seorang santri yang pernah mondok di Pondok Pesantren Pabelan asuhan KH. Jafar Hammaam sejak tahun 1965. Sebuah pesantren yang pernah mendapatkan award untuk bidang lingkungan dan kultural ini.
Lulus SD tahun 1970, Mas Dar langsung mukim di pesantren. Usianya yang masih belia terkadang membuatnya tak stabil di dalam pesantren. Kondisi inilah yang menyebabkan dirinya tak bertahan hingga lulus pesantren.
Mas Dar hanya sampai di kelas empat (1974). Keputusannya untuk keluar dari pesantren karena ia tak ingin terus terjerumus dalam pengaruh teman-temannya saat itu. Ia mengaku sering diajak teman-temannya keluar pondok dan nonton film di Kota Muntilan. “Kalau saya terus begini saya bisa hancur. Akhirnya saya keluar pondok,” kisahnya.
Hati kecil Mas Dar sebenarnya ingin tetap nyantri, karena di pesantren ia jadi memiliki banyak teman yang datang dari berbagai penjuru kota di Indonesia. Namun karena pengaruhnya terlalu kuat dan ia merasa tak kuasa dengan pengaruh teman-temannya, ia akhirnya berhenti mondok.
Keluar dari pesantren, ia pun masuk ke PGA Kudus. Mas Dar memang dari keluarga guru. Sang ayah adalah dosen di Universitas Ahmad Dahlan, Jogjakarta. Begitu pula kakak-kakaknya, banyak yang menjadi guru. Ternyata jiwa guru juga ikut mengalir di darah anak keenam dari enam bersaudara ini.