Tampilkan postingan dengan label PELUANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PELUANG. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 November 2008

Sandal Cantik Limbah Karpet


Limbah tak selamanya harus dibuang. Ia juga bisa dimanfaatkan untuk mengais rezeki. Misalnya dengan secara kreatif menyulapnya menjadi sandal yang cantik.

Sandal tak selalu terbuat dari bahan kulit atau karet sintetis. Limbah karpet berbahan karet pun bisa menjadi sandal unik dan menarik sehingga diminati masyarakat. Lihat saja usaha pembuatan sandal milik Khairul Asri yang menggunakan bahan limbah karpet.

Awalnya ia hanya coba-coba, karena merasa bukan perajin sandal. Tapi seiring sepinya usaha jualan sepatunya, Khairul pun banting setir mencari alternatif lain. Pilihan akhirnya jatuh pada profesi perajin sandal dari bahan limbah karpet dari pabrik. Ia terdorong untuk menciptakan sebuah produk yang berbeda. 

Dengan modal hanya sebesar Rp 200 ribu, tangan kreatif Khairul berhasil menyulap limbah karpet itu menjadi sandal-sandal yang cantik. Di awal-awal usahanya, ia hanya mampu menjual 5 sampai 10 pasang sandal. Itu pun hanya di sekolah Taman Kanak-Kanak tempat anaknya belajar. ”Awalnya saya nggak nyangka kalau sandal itu laku,” kisah pria kelahiran Riau 1969 ini.

Seiring berjalannya waktu, para wali murid yang melihat sandal buatan Khairul mulai tertarik. Informasi seputar sandal dari spon pun menyebar, terutama di kalangan orangtua murid TK. Kini, pada tahun kedua bisnisnya, omzet penjualan sandal Khairul mencapai belasan juta rupiah.

 

Tidak Mahal

Harga sandal-sandal cantik buatan Khairul sangat terjangkau, sekitar Rp 15 ribu untuk ukuran kaki anak kecil, dan Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu untuk orang dewasa. Belum lagi souvenir seperti gantungan kunci, bingkai foto, tas, dan rumah boneka Barbie yang harganya terjangkau dengan kisaran Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu.

Khairul resmi membuka usaha ini pada tahun 2006. Ia memakai merk Sandal Spon WEA. WEA diambil dari huruf dari ketiga nama depan anaknya (Wahid, Erik dan Ando).

Dalam menjalankan usahanya, Khairul dibantu Darni, istrinya, dan enam karyawan yang merupakan para tetangga di lingkungan tempat tinggalnya di Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

”Saya menyadari bahwa rezeki ini bukan hanya untuk saya dan keluarga semata, tapi juga untuk orang lain, karenanya saya memberdayakan tetangga sekitar,” paparnya.

Keenam karyawan yang ikut Khairul ini dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama khusus pemotongan pola sandal; kedua bagian penganyaman tali sandal berbentuk tali kepang; dan kelompok ketiga, pengeliman sekaligus finishing.

Tak banyak memang peralatan yang dibutuhkan untuk membuat sandal limbah ini. Yang terpenting, trampil dalam memotong pola sandal yang sudah dibentuk. Didukung beberapa peralatan standar, seperti gunting, cuter, lem, bahan spon.

Meski sandal jepit dan terbuat dari bahan limbah karpet karet, namun desain produk Khairul ini cukup menarik. Misalnya tali sandalnya adalah anyaman kepang dari perpaduan tiga warna karet. Hiasan yang ada di sandal merupakan bahan baku daur ulang beraneka warna.

Sayangnya, meski menciptakan lapangan kerja baru, Khairul masih terbentur ketersediaan bahan baku, yakni karpet daur ulang dari pabrik. Meski begitu, Khairul terus berupaya menjalankan usaha ini. Bahkan kini dia mampu memenuhi pesanan hingga 300 pasang setiap pekannya.

 

Rajin Ikut Pameran

Khairul tidak membuka grosir. Ia hanya melayani pembelian dengan sistem pesanan dan langsung. Biasanya, ia hanya menjual melalui toko, ia juga rajin mengikuti bazar dan pameran-pameran. Tak heran jika produk buatannya sudah bisa menembus pasar di luar Jawa seperti Jabodetabek, Balikpapan, Pekanbaru, Medan, Padang, Banjarmasin, dan Makassar.  

Saat ini, kapasitas produksi per hari bisa mencapai jumlah 50-70 pasang, Khairul mengaku bisa meraih omzet Rp 5 juta- Rp 10 juta per bulannya. Setelah dipotong biaya operasional, ia mengaku bisa meraih keuntungan 50 persen per bulannya. "Belum sebesar ketika saya buka toko dulu. Tapi saat ini cukuplah untuk membiayai anak-anak saya sekolah," ujarnya merendah.

Sandal dengan produk WEA ini dipasarkan juga lewat internet. Ini ada ceritanya. Seorang pelanggan Khairul di Jakarta yang kerap memesan lebih dari 10 pasang ternyata pusing menawarkan lagi sandal yang sudah dia beli ke orang lain di internet, "Nah, ketimbang or­ang lain yang memasarkan lewat internet, kenapa bukan langsung saya saja yang memasarkan? Setelah tanya sana-sini, akhirnya saya pasang di situs iklan baris yang ada di internet," terang Khairul yang memasang iklannya di salah satu situs di internet.

Khairul juga memanfaatkan tetangga rumah sebagai mitra kerja. Tak heran pemberdayaan terhadap tetangga yang dilakukan Khairul mendapat lirikan beberapa media, seperti media cetak dan elektronik. Bahkan saat diwawancara Majalah Gontor, sehari sebelumnya Khairul syuting //off air// dalam tayangan //Empat Mata// besutan Tukul Arwana.

Pemberitaan ini rupanya membawa dampak positif. PT Telkom, perusahaan telekomunikasi terbesar yang selama ini banyak membina para perajin UKM juga mulai tertarik dan men­jadikannya sebagai anggota binaan. Sebagai binaan, sandal spon WEA juga diikutsertakan dalam beberapa pameran, seperti pameran produk BUMN 2008.

Di ajang //Inacraft// di JCC Jakarta, produk sandal WEA juga ikut dipamerkan. Sayangnya bukan oleh Khairul pribadi, tapi oleh pemain besar lain yang kerap ikutan pameran. Buat Khairul, soal itu tak masalah karena yang penting produknya bisa laku dan dikenal or­ang. Bahkan, penjual yang juga perajin konveksi tadi menjadi salah satu pelanggan tetap Khairul sampai sekarang.

Setelah tiga tahun menggeluti usaha dan mengikuti beberapa pameran, ia sempat ditawari oleh pengunjung bazaar yang diikutinya untuk memproduksi 1000 pasang sandal untuk dibawa ke pameran di Belanda. Jika harga deal, tak lama lagi produknya akan //go international//.

Khairul mengakui, setelah mengikuti beberapa event pameran, ia banyak menambah wawasan dan ilmu usaha karena bisa belajar dan //sharing// pengalaman dengan peserta lainnya. Setiap ada pameran, ia mengakui omzet usahanya meningkat hingga 20 persen.

Dengan pembuatan yang semuanya masih dilakukan manual, Khairul berencana mema­tenkan produknya. Pasalnya, perajin seperti dirinya sudah mulai banyak meski dengan kreasi yang berbeda. Dampaknya, bahan baku yang dulu mudah diperoleh dengan murah, kini mulai langka dan harganya mulai naik./Fathurroji

 

Selasa, 09 September 2008

Raup Rezeki dari Kue Lebaran

Beberapa wanita muda nampak sibuk menghiasi puluhan kue yang ada dalam nampan, ada yang memoleskan coklat di atas kue, ada yang memotong kue, ada yang merapikan ke sebuah toples ada juga yang asyik dengan adukan adonan kue kering.

Itulah pemandangan sehari-hari karyawan di tempat workshop Puspasari di bilangan Batu Tulis Jakarta Pusat. Aktifitas ini semakin ramai ketika pada hari-hari tertentu, misalnya menjelang lebaran, hari raya Imlek atau Natal.

Menurut pemilik usaha kue kering ini, Musa Yahya, usaha yang dilakoninya ini sudah ada sejak tahun 1970-an. Musa yang meneruskan usaha orangtuanya ini mulai berkiprah tahun 1984. Satu hal yang menjadi prioritas dari kue Puspasari ini adalah kualitasnya. Karena itu, tak heran jika kue kering ini masih banyak penggemarnya.

Awalnya, selain kue kering, Puspasari juga menjajakan kue basah namun melihat perkembangannya, kue basah ia tinggalkan karena produknya tidak bisa tahan lama sebagaimana kue kering yang bisa bertahan hingga setengah tahun. “Kue basah paling hanya bisa bertahan seminggu,” paparnya saat ditemui di kantornya.

Musa menyadari kalau usaha kue kering ini tak selamanya laris manis, ada momen-momen tertentu yang menjadikan kue kering ini digemari di masyarakat, misalnya ketika datang waktu lebaran, hari raya imlek atau natalan.

Menurut Musa, kebiasaan masyarakat yang mengonsumsi kue kering di waktu-waktu tertentu membuatnya harus pandai mencari solusi penjualan lain. Salah satunya dengan cara mengemas bungkus kue kering lebih menarik, dan tidak mengesankan sebagai kue lebaran. “Kami terus mencoba membangun image bahwa kue kering bukan untuk lebara saja,” katanya.

Selian membuat kemasan menarik, Musa juga mencoba melakukan ekspansi usahanya ke luar negeri, misalnya Singapura. Bagi Musa, pasar Singapura ternyata cukup baik untuk penjualan kue kering ini. Pasalnya, tak jarang pembeli Singapura memesan 120 karton atau sekitar 1000 toples.

Kue kering yang menembus pasar Singapura ini ternyata banyak dijajakan di supermarket, selain itu juga dijajakan di pinggiran jalan. ”Hasilnya lumayan bisa menutupi ketika hari-hari biasa,” katanya.

Bagi Musa, kue kering yang menjadi andalan usahanya ini cukup menggiurkan, tak heran jika dalam sehari ia bis amenghabiskan bahan-bahan roti sebanyak 60 kg atau omset yang ia miliki bisa mencapai Rp 25 juta per hari. Dari keseluruhan omset ini, ia bisa menyisihkan keuntungan sekitar 10 hingga 30 persen.

Saat ini, Musa mempekerjakan sekitar 100 karyawan, para karyawan menempati lahan seluas 1000 m2, dan sebagian karyawan juga menginap di mes. Para karyawan sebagian besar adalah karyawan musiman, hal ini untuk mengantisipasi menurunya penjualan di hari-hari biasa.

Pemasaran yang dilakukan perusahaan kue Puspasari ini awalnya hanya dari mulut ke mulut. Misalnya melalui beberapa saudara, tetangga dan lama-lama mulai merambah pertokoan. Bahkan Indomaret dan pasar swalayan lainnya juga menjajakan kue Puspasari ini.

Untuk mengenalkan produk kue Puspasari ini, Musa mendapatkan bantuan dari beberapa departemen dalam bentuk pembinaan UKM. Di antaranya Departemen Perdagangan, Kementerian Koperasi, Departemen Perindustrian, dan Departemen Tenaga Kerja.

Alhasil, usaha berbendera Puspasari ini kerap mengikuti pameran yang digelar pemerintah, baik tingkat lokal maupun global. ”Sejak tahun 2006, kami aktif mengikuti berbagai pameran, di antaranya Malaysia dan Singapura,” ujarnya.

Musa mengatakan, dampak dari pameran yang ia ikuti cukup memberikan perkembangan terhadap produknya. Di antaranya, produk Puspasari lebih dikenal oleh khalayak ramai, terutama dari pasar manca negara. Selain itu juga pasar domestik.

Momen mengikuti pameran tak ia sia-siakan, di antaranya menyebarkan brosur produk kuenya, melihat-lihat produk makanan lain sebagai bahan inspirasi produknya, mengikuti kegiatan seminar yang diadakan di pameran. ”Banyak manfaatnya ketika ikut pameran,” paparnya.

Selain pemasaran di pameran, Musa juga memberikan peluang kepada siapa saja yang ingin menjadi agen dengan diskon khusus. Ke depan, model pemasaran yang akan dikembangkan layaknya mirip Multi Level Marketing (MLM). Tapi semua itu masih mencari format yang tepat.

Bagi Musa, tampilan produk sangat mempengaruhi penjualan kuenya. Sebab jika tampilan luarnya bagus akan bisa menarik pembeli untuk mencobanya, tentunya diimbangi dengan kualitas bahan bakunya.

Untuk mengembangkan model produknya, Musa kerap melihat-lihat produk kue dari luar negeri, misalnya melalui majalah-majalah, internet dan lain sebagainya. Ketika ada yang baru dan memungkinkan untuk dicoba, maka Musa akan mencobanya.

Saat ini Musa memiliki banyak model jenis roti, misalnya model kipas, panda, black forest, putri laut, nastar daun, keju pita, lidah kucing, playboy, bangkit animals dan lain sebagainya. Berbagai ragam model kemasan ini bertujuan untuk menarik pembeli.

Produk yang dikeluarkan Puspasari ada empat model, yaitu ekonomis, reguler, spesial dan istimewa. Menurut Musa, produk yang banyak digemari pembeli adalah produk reguler. Sedangkan untuk produk spesial dan istimewa justru penggemarnya dari Singapura.

Adapun untuk harga per toplesnya, Musa mematok harga antara Rp 20 ribu hingga Rp 65 ribu. Merek milik Musa ini juga dilengkapi dengan sertifikasi halal dari badan POM guna menjamin produknya aman untuk dikonsumsi umat Islam.

Terkait dengan melonjaknya bahan baku pembuatan kue kering, Musa berharap kenaikan bahan baku kue bisa stabil sampai menjelang Ramadhan. Saat ini, kata Musa, hampir semua bahan baku kue naik. Namun kenaikan harga kue per toples tidak sampai 20 persen, kecuali kue-kue untuk segmen premium bisa naik sampai 25 persen.

Pengusaha yang sudah memulai usahanya sejak 1970 ini mengaku was-was jika harga bahan baku masih tetap tinggi, ketika pesanan kue mulai ramai. Kalau sudah begitu mau tidak mau harga jual naik dan konsumen akan mengurangi belanja kue ketika harga jual tinggi.

"Memang saya sudah siap jika sampai nantinya harga bahan baku kue tinggi. Caranya dengan menurunkan produksi. Artinya saya mengutamakan pesanan pelanggan tetap dulu," ujar Musa.

Sementara itu penghasil kue kering di Bandung Dedi Hidayat dan Diah Susilo ini berawal dari industri rumahan biasa. Tahun 1996, Diah mengembangkan hobinya membuat kue kering macam cheese stick, kastengel sampai nastar. Melihat kepiawaian sang istri, Dedi yang kala itu belum memiliki pekerjaan tetap lantas menawarkan kue buatan istrinya ke kerabat, tetangga serta koleganya.

Ternyata usaha ini mendapat respon positif. Perlahan tetapi pasti usaha kue kering Dedi-Diah mulai dikenal. Oleh sebab itu kemudian usaha ini diberi label Joicy.

Untuk memenuhi permintaan pelanggan, Diah merekrut warga sekitar rumah sebagai pekerja. Jumlah pekerjanya bisa bertambah apabila permintaan meningkat. Ini biasanya terjadi menjelang Lebaran dan Natal. Di saat puncak permintaan itu mereka bisa mempekerjakan sampai 120 orang.

Jenis produk kue keringnya juga terus bertambah. Bila sebelumnya hanya memproduksi cheese stick, kastengel dan nastar, maka produknya makin variatif. Ada kue corn flake cokelat, lidah kucing, mexicano cookies, strawbery bull hingga brownies. Agar cita rasa tak berubah, Dian tetap terlibat langsung dalam produksi.

Harga setiap kue keringnya variatif. Yang termurah adalah Rp 22.500 per toples. Sementara yang termahal adalah Rp 40 ribu per toples. Para pelancong yang datang berlibur di Bandung rasanya tak lengkap bila pulang tanpa membawa buah tangan kue kering Joicy.

Sebagaimana yang dirasakan Musa, Diah juga merasakan bahwa masyarakat belum menjadikan kue kering sebagai kudapan setiap hari. Lazimnya kue kering menjadi suguhan hanya saat Lebaran maupun Natal. “Memang puncak penjualan terjadi ketika Lebaran. Terkadang sampai Natal. Kalau pada bulan-bulan biasa tak terlalu banyak pembeli,” ungkapnya.

Kala Lebaran lalu produksi yang dihasilkan sampai 50 ton. Atau setara dengan sekitar 8000 lusin. Selama bulan puasa omset yang diperoleh sampai mencapai Rp 2 miliar. Omzet ini jauh lebih besar di bandingkan omzet rata-rata.

Usaha Jilbab Online


Bagi kaum hawa, berbisnis tak harus seharian di luar rumah. Di dalam rumah pun bisnis bisa dijalankan. Mungkin bisnis yang satu ini boleh dijajal, yakni bisnis jilbab via online. Mau tau? Ikuti kisahnya.

Lihat saja semangat kedua ibu rumah tangga Agustina Udayasari dan Sukmasari ini. Sebelum terjun di bisnis online, keduanya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan besar, namun karena pertimbangan ingin mengasuh anak lebih intensif, akhirnya keduanya memilih bisnis yang bisa dijalankan dari rumah, yakni membuka toko online, alias via internet.

Tak pelak, keduanya pun bisa fokus mengasuh anak, bisnis pun berkembang. Keduanya memilih jilbab dan busana muslimah sebagai ladang bisnisnya, karena keduanya tak akan pernah basi dipasarkan.

Agustina Udayasari atau yang akrab dipanggil Tina ini menjalankan bisnisnya melalui dua jalur, yakni jalur toko offline dan online. Ibu dua anak ini memulai usahanya sejak tahun 2006. Modal awal yang disiapkan hanya Rp 6 juta.

Saat ini toko online yang dibangun Tina ada tiga buah, yaitu omahkerudung.com, rumahmuslim.com, dan azkacollections.com begitu juga toko offline yang dikembangkan sudah ada tiga tempat, yaitu rumah kerudung lamara, rumah baju lamara dan azka collections, semuanya berada di ITC Cempaka Mas, Jakarta.

Sebelum mengambil keputusan berbisnis jilbab, Tina yang lulusan Elektro Univesitas Indonesia jurusan komputer ini pernah berdagang produk selimut sisa ekspor, batik, dan bantal cinta. Produk-produk itu ia pasarkan ke beberapa teman yang ada di perkantoran. Namun hanya bertahan tiga bulan, setelah itu ia beralih ke produk jilbab.

”Waktu itu benar-benar memulai dari nol tanpa memiliki background bisnis sama sekali,” kisahnya.

Alasan memilih jilbab, karena jilbab sekarang sudah menjadi barang yang biasa digunakan Muslimah. Bahkan tampilannya yang modis membuat jilbab banyak diminati Muslimah. Selain itu, karena modis, maka pemakaiannnya pun juga cepat. Alias cepat ganti-ganti. Hal ini berbeda dengan jenis pakaian.

Produk jilbab yang dijajakan Tina berasal dari produsen ternama seperti Lamara, bahkan di Jakarta hanya ada di dua tempat, yakni di outletnya dan pusat grosir Cililitan. ”Saya bersyukur bisa menjadi distributornya, dan alhamdulillah sekarang berkembang, ” paparnya.

Dengan bermodal keyakinan bahwa bisnis yang dijalaninya bisa berkembang, akhirnya ia tekuni bisnis ini menjadi lebih besar. Pangsa pasarnya pun mampu merambah ke manca negara. Seperti Singapore, Malaysia, Brunei, dan Australia. Sedangkan untuk wilayah Indonesia, mulai dari Sabang hingga Papua.

Tak heran jika dalam sebulam sekitar 5.000 buah lebih jilbabnya bisa dijual ke konsumen. Tina mengaku dalam sebulan omsetnya bisa mencapai angka Rp 300 juta. Sedangkan keuntungannya, Tina mengambil sekitar 10 persen.

Tina membandrol jilbabnya kisaran harga mulai Rp 25 ribu hingga Rp 75 ribu, namun kelebihan dari jilbabnya bahan yang digunakan dari bahan Lycra produksi China, yang kualitasnya halus dan nyaman dipakai.

Melihat pemasaran yang cukup baik, ibu yang pernah menjadi karyawan Indofood ini berencana membuka satu toko offline lagi di tempat yang terpisah. Rencananya sesudah lebaran, toko tersebut sudah bisa beroperasi.

Untuk memaksimalkan pelanggan, Tina menempuh jalur dunia internet untuk pengembangan pemasaran. Jika sudah mengenal lewat online, tak jarang para konsumen beralih ke offline untuk melihat langsung produknya.

Ibu dua putra ini mengaku kalau dirinya banyak terbantu dengan model online, pasalnya pangsa pasarnya bisa menembus lintas batas, hingga ke manca negara. Inilah yang menjadi alasan mengapa ia memiliki tiga toko online. ”Dalam sebulan bisa mencapai lebih dari 2.000 orang pengunjung online,” paparnya.

Menurut istri dari Teguh Atmajaya ini, untuk mendapatkan pengunjung yang banyak di webistenya, ia berusaha mengoptimalkan Search Engine Optimization (SEO) di google supaya mendapatkan rating tinggi, melalui email-email dan milis.

SEO menurut Tina merupakan salah satu trik bagi para penjual online, bukan hanya untuk goods tapi juga untuk services, sehingga ketika seseorang mencari kata kunci tertentu via mesin pencari (search engine) seperti google atau yahoo, maka webnya akan tampil di halaman awal.

Dalam menjalankan bisnisnya, Tina merasa mengalami kendala di bidang sumber daya manusianya. Karena untuk sistem online, tenaga yang mengoperasikan dirinya sendiri bersama suami. Karena belum ada delegasi yang tepat untuk sistem online ini. Sedangkan di toko offline, ia masih mencari tim yang lebih baik.

Untuk sistem online, Tina hanya mengeluarkan kocek sebesar Rp 300 ribu per tahun untuk membayar domain dan hosting. Sedangkan untuk IT-nya dirinya mengandalkan sang suami yang juga orang IT.

Bagi Tina, berwirausaha itu tidak sesulit yang dibayangkan orang. Siapa pun bisa menjadi pebisnis ulung. Modalnya adalah keyakinan dan semangat dalam menjalankannya. ”Siap action !" tegasnya.

Selain itu, seseorang harus memiliki keyakinan atas apa yang difikirkan atau yang diimpikan. Artinya, dengan keyakinan yang kita bentuk dalam fikiran, akan menarik dan mendekatkan kita kepada impian yang kita bentuk dalam fikiran.

Menurut Tina, sebagian orang mengatakan bahwa bisnis ibarat pisau bermata dua, yakni satu sisi menghadirkan kegagalan dan sisi lainnya mendatangkan kesuksesan. Memang ada benarnya, karena bisnis memiliki dua resiko, untung dan rugi.

Tapi ingat, tambah Tina, bahwa bukan hanya bisnis yang memiliki dua resiko yang bertolak belakang namun hampir seluruh aspek kehidupan ini akan menemui dua kutub yang berbeda, misalnya kaya dan miskin, sehat dan sakit, tua dan muda surga, dan seterusnya.

”So, saran saya jangan pernah takut terhadap pilihan yang kita buat saat ini. Pilihan ini akan mewujudkan mimpi menjadi kenyataan,” tegasnya.

Berbeda dengan Tina, Sukmasari memilih toko online karena lebih mudah menjalankannya. Sukma memulai usaha bisnis sejak Juli 2007. Awalnya ia sebagai pegawai kantoran yang menerima gaji bulanan. Namun jiwa wirausahanya yang terus muncul membuatnya harus melepas pekerjaannya dan beralih ke usaha jilbab.

Dengan modal hanya Rp 700 ribu, ia memanfaatkan internet dalam rumahnya untuk menjaring pelanggan dari berbagai penjuru di Nusantara bahkan manca negara. Bagi Sukma, pemasaran melalaui internet memudahkannya untuk menampilkan berbagai macam produk dan modelnya kepada customer.

Ibu satu anak ini memasang produknya di nadirahouse.blogspot.com ini merasa setiap bulannya ada peningkatan pengunjung yang mampir ke bloggernya. Pada desember 2007 pengunjungnya sudah mencapai 1.985 orang. Dan akhir Mei 2008 pengunjung nadirahouse meningkat menjadi 4.638 orang.

Setelah tetangga mengetahui kalau Sukma hanya mengakses internet dalam pemasaran usahanya, para tetangga pun mulai belajar internet dan ada beberapa yang mencoba melakukan pemasaran produk lain via internet. ”Bersyukur tetangga jadi melek internet,” paparnya.

Saat ini Sukma belum memikirkan membuka toko offline, ia lebih suka toko online, pasalnya selain cost bulanan yang cukup ringan, pemasaran juga mudah dan murah. Karena tidak membutuhkan tenaga pemasaran. ”sebenarnya banyak yang menyarankan buka offline, tapi nanti dulu,” paparnya.

Sukma menceritakan, dari hasil riset yang ia lakukan di salah satu mall grosir di Cililitan, bahwa sewa tokonya mencapai Rp 20 - 30 juta per tahun. Selain itu juga harus memerhitungkan gaji karyawan, biaya kebutuhan listrik atau kebersihan.

Kendati pemasarannya bergerak di dunia maya, omset yang ia raup dalam sebulan tak kalah dengan toko-toko offline, yaitu Rp 50 juta per bulan. Dari total nilai omset, Sukma mengambil untung antara 10 hingga 25 persen. ”Ini cukup membesarkan hati saya untuk lebih fokus kepada bisnis online ini,” paparnya.

Bagi istri M Zenial Budiman ini, bisnis online ini tantangan buat dirinya, ”Saya ingin membuktikan bisnis online tidak kalah omsetnya dengan bisnis offline. Kalau orang lain buka toko offline ke dua, ketiga, dst...saya rencanakan buka toko online kedua, ketiga, ...” paparnya.

Sukma memang tidak membuat sendiri jilbab yang dipasarkan. Tapi ia mengambil dari beberapa produsen jilbab seperti Maiara, Zatta, el Zoya, dan Arrina. Model-model jilbab yang layak jual, ia tampilkan di bloggernya. Jika ada pesanan dari pelanggan, ia tinggal mengambil barangnya.

Harga yang dipatok pun berfariasi, harga eceran mulai Rp 34 ribu hingga Rp 70 ribu. Sedangkan untuk harga grosir lebih murah. Misalnya yang harga Rp 34 ribu menjadi Rp 24 ribu.

Kini, pelanggannya sudah merambah pasar luar negeri, misalnya ke Malaysia, Singapore, Australia, Denmark, dan Seattle USA. Sedangkan untuk pasar dalam negeri mulai dari Aceh hingga Papua. ”Alhamdulillah bisnis saya jalan, saya juga bisa mengasuh anak sendiri di rumah,” ungkapnya. [] roji

BOKS

10 Tips Mengelola Toko Online

Beberapa tips bagi Anda yang akan atau sudah membuka bisnis online khususnya toko online:

1. Tumbuhkan kepercayaan pada toko online Anda. Misalnya menunjukkan indentitas jelas. Mencantumkan nama, alamat lengkap bahkan foto pelaku usahanya, jadilah orang yang gaul di internet dengan cara aktif dalam mills ataupun blog-blog agar dikenal.

2. Rajin memberi tips dan trik. Jangan hanya mengisi toko dengan pajangan produk jualan saja tetapi juga dengan newsletter unik dan bermanfaat yang berkaitan dengan produk jualan yang ditawarkan.

3. Bergaul dengan google, caranya sering mengupdate data-data dalam toko online Anda. Karena google juga akan mengupdate data Anda secara otomatis.

4. Bangunlah kredibilitas dengan cara tidak hanya menjual produk tapi juga mengenali produk. Misanya, jika menjual baju sebaiknya juga menyediakan newsletter yang berkaitan dengan tips.

5. Tampilkan testimoni dari pembeli, hal ini menggambarkan bahwa banyak yang menyukai toko online Anda.

6. Buatlah pengunjung dan permbeli merasa nyaman, dengan nilai lebih dari toko online seperti newsletter yang menarik, isi yang sering di-update dan situs yang interaktif terhadap pengunjung.

7. Bangunlah komunitas, karena dengan menciptakan pelanggan yang loyal, ke depannya bila menjual produk lain maka pembeli akan langsung percaya.

8. Membangun sistem afiliasi, dengan membiarkan orang lain menjadi salah satu agen kita.

9. Hindari spam yaitu mengirim email yang mengenalkan toko kita ke sembarangan email orang lain tanpa diminta. Hal ini hanya akan menurunkan kredibilitas toko online Anda.

10. Beriklan lewat artikel. Dalam arti buatlah bahasa iklan seperti membaca artikel karena tidak ada satu pun orang suka membaca iklan. [] berbagai sumber

Curug Gentong Membawa Untung


Awalnya sekedar hobi membuat miniatur taman, akhirnya hobi pun menjadi lahan bisnis baru bagi Rery Endrico, yaitu bisnis curug gentong. Bagaimana kiatnya?


Menghadirkan nuansa alami di lingkungan rumah tak perlu biaya mahal. Pasalnya, nuansa alami itu bisa dikemas dalam sebuah gentong. Melalui tangan kreatif pasangan suami istri Rery Endrico dan Rita Apriyanti ini gentong yang biasa digunakan sebagai tempat air beralih menjadi hiasan rumah atau perkantoran. Tak hanya keindahannya yang menggoda tapi juga rezeki dari hasil gemericik air dalam gentong.

Waktu itu, tahun 2003, dengan modal awal Rp 5 juta, Rico membuat landscape yang dinamai curug gentong. “Curug dalam Bahasa Sunda berarti air terjun, sedangkan gentong merupakan medianya. Jadi, curug gentong berarti air terjun di dalam gentong,” paparnya.

Untuk menciptakan nuansa alam di dalam gentong, Rico menggunakan berbagai macam bahan baku seperti limbah batu apung, kerikil, semen, dan kayu yang dibentuk sedemikian rupa. Selanjutnya, dengan lem khusus, bahan-bahan tersebut direkatkan ke dalam “perut” gentong. Untuk membuatnya lebih indah, curug gentong ini dihiasi dengan lampu air berkekuatan 10 watt sampai 25 watt atau lampu bohlam berkekuatan 5 watt.

Rico mengakui, untuk membuat curug gentong ini, Rico mengeluarkan budget sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta setiap bulannya. Dana tersebut untuk membeli 100 gentong dalam berbagai ukuran dan bentuk.

Untuk mendapatkan hasil gentong yang berkualitas, ia menjalin kerja sama dengan perajin gentong di Plered, Purwakarta. “Dalam sebulan, rata-rata terjual 50 gentong,” kata lelaki yang rata-rata meraup omset Rp 5 juta hingga Rp 15 juta per bulannya ini.

Adapun harga yang dipatok oleh Rico untuk setiap gentongnya berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp 750 ribu.

Mulanya, gentong curug yang ia rintis ini diminati para tetangga yang silaturrahmi ke rumahnya. Dari situlah, tetangga membeli gentong garapannya. Hingga akhirnya menyebar dari mulut ke mulut.

Kini, pemasaran curug gentong ini telah merambah sampai wilayah manca negara, misalnya Malaysia, Singapura, Jepang, Filipina dan Newzeland. Sedangkan untuk wilayah dalam negeri, hiasan gentong ini telah masuk ke wilayah Batam, Pekanbaru, Samarinda, Lampung, Sumatera Barat, Malang, Surabaya, dan Ternate. “Sedangkan untuk mancanegara dilakukan oleh buyer,” ungkapnya.

Selain dari mulut ke mulut, Rico juga melakukan pemasaran melalui pameran-pameran yang diikutinya. Keberhasilan ini bukan hanya mengangkat nama Rico sebagai pengusaha sekaligus pembuat curug gentong tapi juga Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Depok, Jawa Barat. Akhirnya, instansi pemerintah Depok itu menetapkan karya Rico sebagai salah satu produk unggulan kota Depok.

Rico mengaku tidak memasukkan produknya ke beberapa art shop atau gallery. Bukannya tak ada permintaan untuk hal tersebut, namun menurut Rico karena produk yang dijualnya ‘bukan barang biasa’, yang bisa dibiarkan begitu saja tanpa ada perawatan.

Curug gentong ini perlu perawatan rutin agar tidak rusak. Misalnya, harus menambahkan air setiap dua pekan sekali atau membersihkannya sebulan sekali. Hal ini mungkin sulit dilakukan secara rutin oleh petugas toko tempat barang ini dititip. ”Bisa-bisa barang saya jadi rusak. Kalau sudah begitu, kan, bisa sia-sia kerja saya. Makanya saya putuskan tidak menitipkan di art shop atau gallery, meski ada permintaan untuk itu,” tandasnya.

Saat ini, Rico membangun ruang pameran di rumahnya sendiri. Jika ada pembeli datang, bisa langsung memilih sesuai yang diinginkan. Seiring makin derasnya permintaan, dia merekrut enam karyawan yang masing-masing menghasilkan enam curug gentong per tiga harinya.

“Saya mengajarkan pembuatan curug gentong ini pada istri dan ketiga anak saya. Boleh dibilang merekalah murid saya pertama. Sekarang mereka sudah menguasai pembuatannya dan aktif membantu. Selain itu istri saya juga terlibat dalam manajemen usaha ini,” tuturnya.

Bagaimana jika produknya dijiplak. Rico menanggapinya dengan santai, dan tak merasa khawatir dengan penjiplakan. “Kalau ada yang menjiplak, ya bagus lah, berarti ikut mengentaskan pengangguran. Saya tidak merasa tersaingi, saya sudah siap kok,” ujarnya.

Baginya persaingan justru lebih bagus semakin memacu kreativitas. Kuncinya kreatif, inovatif dan desain harus terus diperbaharui. Misalnya, curug gentong yang tampak seolah mengeluarkan asap, curug gentong aromatherapy, curug gentong yang bisa digantung dan curug dalam pigura.

Untuk meningkatkan penjualan, ia aktif berpromosi. Di samping itu, juga melayani mereka yang membeli untuk dijual kembali dengan sistem beli putus. “Tapi, setelah satu bulan curug gentong yang mereka ambil ternyata tidak laku, mereka boleh mengembalikannya untuk tukar model,” ujarnya.

Servis seperti itu tidak hanya diberikan Rico kepada para distributor, tetapi juga kepada para konsumennya. Pasalnya, tak jarang karena berbulan-bulan terkena air, catnya memudar. Karenanya, konsumen bisa meminta untuk dilakukan pengecatan ulang dengan charge 50 ribu hingga Rp100 ribu. Tapi, hal ini hanya boleh dilakukan setelah enam bulan curug gentong itu dibeli.

Bahkan bila konsumen merasa bosan dengan model curug gentongnya, mereka dapat menggantinya dengan menukar tambah sebesar Rp 50 ribu. “Syaratnya, barang tidak dalam kondisi rusak atau cacat,” lanjut bapak lima anak yang juga hobi melukis dan teater ini.

Selain curug gentong, Rico juga membuat berbagai miniatur taman berikut air terjunnya untuk digantung dengan media kayu, sehingga mirip dengan lukisan. Selain itu, juga membuat taman dan air terjun mini dalam pot bonsai, kaleng biskuit, atau guci.

Untuk meningkatkan bisnisnya ini, Rico rela melepaskan status karyawan di perusahaan swasta dan kini bahu membahu bersama sang istri membesarkan usahanya ini.

Event-event pameran ia ikuti mulai dari pameran yang digelar Dekransda Depok, SMES’CO, Indonesia Expo, ICRA atau Inacraft. Bahkan beberapa media mengangkat bisnis curug gentong ini. Gayung pun bersambut, melalui tayangan berbagai media baik elektronik maupun cetak, usahanya kian dikenal masyarakat.

Produk curug gentong yang ia geluti ternyata mendapatkan perhatian dari pemerintah kota Depok, hingga akhirnya ia mendapatkan penghargaan karena menjadi juara ketiga Kreatifitas Terbaik se-Jawa Barat tahun 2006.

Untuk menjadi agen syaratnya sangat mudah. Menurut Rico, calon agen harus membeli minimal 6 buah curug gentong dengan berbagai model. Penamaannya pun diserahkan kepada si agen. ”Agen punya hak untuk memberi nama outletnya,” katanya.

Selain membuka pendaftaran agen, Rico ternyata peduli dengan generasi muda. Lihat saja, kegiatan rumahan ini juga ia tularkan kepada mahsiswa di wilayah Depok, seperti kampus Gunadarma.

Setiap tahunnya, ia membuka kursus gratis untuk mahasiswa atau siswa. Namun tiket gratis tak berlaku bagi calon peserta dari kalangan umum. Untuk 60 jam pertemuan, peserta dikenai biaya Rp 2.5 juta. ”Alhamdulillah, rata-rata mereka pulang dengan membawa hasil karyanya sendiri dan bisa menjualnya ke orang lain,” paparnya.

Sabtu, 16 Februari 2008

Mainan Anak Pembawa Rezeki

Jeli melihat pasar, Ummu Masmu'ah memulai bisnis mainan anaknya dari nol. Omzetnya kini mencapai ratusan juta rupiah per bulan.

Kalau Anda kebingungan membelikan mainan anak yang bagus, edukatif, tapi sehat dan murah. Kini, saatnya Anda tersenyum lega. Kebingungan Anda sudah teratasi. Saat ini telah hadir produk mainan anak yang edukatif, tapi sehat dan murah. Terbuat dari kayu dan terbebas dari bahan kimia yang membahayakan, harganya pun tidak mahal.

Adalah Ummu Masmu'ah, 38 tahun, yang mengeluarkan produk mainan itu. Dengan bendera usaha bernama "Haula Toys", Ummu menciptakan mainan-mainan anak yang edukatif, kreatif, tapi sehat dan murah.

Awalnya Ummu adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Bingung memenuhi kebutuhan susu dan hidup rumah tangganya, ketika hamil, Ummu memutuskan bekerja sebagai sales marketing produk buku edukasi asal Jerman yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sebagai langkah awal, ia mencoba mempraktekkan buku itu pada anaknya sendiri, Haula Fanzianah. Ternyata, hasilnya cukup baik. Sejak itu, Ummu menjadi lebih termotivasi untuk menjajakan buku tersebut.

Namun demikian, Ummu sadar dirinya tidak bisa selamanya menjadi penjaja buku orang. Ia lalu memutuskan membuat sendiri perangkat edukasi anak-anak yang terbuat dari kayu, tapi kualitas dan harganya terjangkau.

Dengan modal awal Rp 400 ribu, Ummu menjalin kerjasama dengan perajin kayu. Keduanya berkolaborasi menghasilkan berbagai jenis //puzzle// kayu. Menurut Ummu, mayoritas mainan kayu di toko adalah barang impor dan harganya mahal.

Mainan yang ditawarkan Haula sangat bervariasi. Dari mainan untuk anak usia sebulan hingga anak-anak sekolah menengah pertama. Mulai dari mainan balok bangun, bongkar pasang, //wire game//, boneka tangan, panggung boneka, karpet lantai, tenda, mebel, papan tulis, meja, kursi, ayunan hingga rumah-rumahan yang bisa ditinggali oleh anak-anak.

Harga yang dipatok cukup beragam, mulai dari harga Rp 5 ribu hingga jutaan rupiah. Sayangnya, mainan Haula ini tidak dijual bebas layaknya mainan anak-anak produksi luar negeri.

Selain karena produknya terbatas, bahan baku mainan Haula sangat khas, yaitu terbuat dari kayu dan bernuansa Islami. Misalnya saja, boneka dari kain dengan ciri boneka laki-laki berpeci dan boneka perempuan berjilbab.

Wanita lulusan Bahasa Jepang IKIP Bandung ini juga membuat boneka kain sebagai alat peraga pendidikan seks anak. Boneka itu dapat dijadikan alat peraga bagi para ibu guna menjelaskan proses kehamilan seorang ibu hingga kelahiran bayinya. ”Ibu-ibu biasanya //risih// kalau ditanya anaknya dari mana bayi keluar? Mereka biasa menjawab kalau keluarnya lewat perut. 'Kan bukan begitu,” papar istri Sholahudin Fuadi ini.

Ummu juga membuat boneka profesi yang menggambarkan profesi-profesi tertentu dengan kekhasan bajunya, seperti koki dan polisi. Haula Toys juga membuat mainan edukasi dari kayu yang fungsinya sebagai alat bantu terapi autis. ”Selain itu, semua ini juga sarana dakwah. Anak-anak kan lebih suka meniru dibandingkan mendengar nasihat,” kata Ummu.

Sebagai langkah menjajaki pasar, Ummu pun membuka gerai di //Alfa Zone//, //playgroup// di Atrium, Senen. "Saya jemput bola," ujar Ummu bersemangat. Strategi Ummu menuai sukses. Respons pasar cukup besar. Ini kali pertamanya produk Ummu dikenal masyarakat luas.

Tak hanya itu, untuk memperkenalkan produknya, Ummu juga mengikuti berbagai event pameran. "Tapi masih //nebeng// sama orang lain," paparnya. Butuh beberapa kali pameran hingga ia sanggup membayar //stand// sendiri.

Setelah mencoba berbagai model pemasaran, pameran buku dan pameran yang memiliki jaringan luas ternyata yang paling efektif. Kalau di pameran buku yang paling laku mainan kayu, sedang di pameran sebuah partai, boneka alat peraga kesehatan yang diminati—karena jaringan kesehatannya luas.

Sekarang, untuk setiap acara pameran, Ummu harus membuka 5 stand pameran dengan harga kurang lebih Rp 70 juta. Karyawan Ummu Masmu'ah mencapai ratusan orang. Ekspansi yang dikembangkan Haula sudah merambah hampir daerah di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Saat ini ada sekitar 150 agen mandiri dan 10 agen wilayah.

Tak ayal, dalam waktu singkat, produk Haula dikenal oleh lapisan masyarakat, terutama dari kalangan pendidikan, dari Taman Kanak-Kanan hingga Sekolah Tingkat Pertama. Rata-rata konsumennya membeli dalam bentuk order pesanan. Pasalnya, barang yang diproduksi terbatas. ”Kalau pas order banyak, kita memberdayakan warga di sekitar rumah untuk membantu,” katanya.

Menurut Ummu, untuk mengenalkan produk mainannya ia harus merekrut tenaga marketing yang mampu menjelaskan fungsi-fungsi dari setiap mainan. Tanpa penjelasan yang lengkap sebuah mainan yang ada tak akan banyak berfungsi. Karenanya, Haula juga menerbitkan beberapa buku panduan untuk setiap mainannya.

Menata pemasaran dan penjualan, menjaga hubungan baik dengan konsumen, menjaga kuantitas serta kualitas produksi, serta menciptakan ide produk baru yang segar merupakan kunci keberhasilan Haula Toys.

Kalau Anda tertarik terjun di bisnis ini, Anda cukup mengeluarkan modal minimal Rp 2,5 juta. Dengan modal itu, Anda dapat membeli berbagai macam mainan Haula plus diskon khusus dan cara memperagakan fungsi dari setiap mainan yang ada.

Selain itu, Ummu juga sedang menjajaki kemungkinan usahanya di-franchise-kan. Dengan sistem ini konsumen bisa membuka usaha dengan modal minimal Rp 50 juta. Namun begitu, sistem franchise ini saat ini masih digodok di tingkat manajemen. ”Kita masih melakukan studi,” katanya.

Berkat kinerja dan kualitas mainan yang diproduksinya, Haula Toys beberapa kali dipinang oleh beberapa investor. Namun Ummu yang merasa masih belum banyak pengalaman ini menolak dengan baik tawaran itu.

”Sebagai Muslimah, saya ingin menunjukkan bahwa seorang muslimah juga bisa berkreasi dan berbisnis dengan baik,” katanya. fathurrozi

Jual Bunga Untungnya Berbunga

Lelaki itu nampak asyik berada di taman bunganya. Tangannya yang terampil terlihat bergerak lincah diantara bunga-bunga dan kotornya tanah dalam pot. Demikian kesibukan sehari-hari lelaki bernama Hermansyah ini. Dari tanaman hias yang dirawatnya, ia bisa mengais rezeki yang tidak sedikit.

Herman memulai bisnisnya sejak tahun 1988. Tepatnya di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Modal yang dipersiapkan saat itu relatif sedikit hanya Rp 3 juta. Modal itu ia gunakan untuk membeli beberapa tanaman hias sepereti bunga karet merah, palem, rumput-rumputan dan sebagainya.

Selain itu modal yang ia punya digunakan untuk pendukung perawatan tanaman, di antaranya untuk pembelian pot bunga, pupuk, cangkul, plastik, sabit, rak bunga dan lain sebagainya.

Namun sayang, usaha yang digelutinya tak bisa bertahan lama di tempat yang dianggapnya strategis itu. Karena saat itu lahan yang ditempatinya tergusur oleh pembuatan jalan tol Lebak Bulus. “Apa boleh buat, akhirnya saya pindah tempat meski berat,” paparnya kepada Majahal Gontor saat ditemui di tamannya.

Setelah terkena gusuran pada tahun 1992, Herman diberi fasilitas tempat oleh Dinas Pertamanan Kota, tepatnya di bilangan Srengseng Sawah, samping kampus Universitas Indonesia, Depok. Di tempat inilah ia mulai usahanya lebih besar lagi dengan nama Tanaman Hias Bougenvile. Berbagai jenis tanaman ia punya, mulai jenis tanaman perdu, tanaman air dan tanaman pelindung.

Menurut Herman, untuk membuka usaha tanaman hias dibutuhkan ketekunan dalam perawatan tanaman. Tak hanya itu, pengetahuan tentang karakter tanaman juga harus dikuasai, di antaranya dengan cara membaca buku tentang tanaman dan langsung latihan di lapangan. Sebab jika tidak menguasai jenis tanaman yang dirawatnya, bisa jadi keliru dalam perawatan yang menyebabkan matinya tanaman.

Selain itu, menurut Herman, lokasi usaha diusahakan berada di tempat yang strategis, yaitu berada di pinggir jalan dan mudah dijangkau oleh pembeli, parkir yang cukup, dekat dengan aliran sungai, dan dekat dengan perumahan warga sekitar. “Karena bagaimana pun juga tempat sangat berpengaruh terhadap jalannya bisnis tanaman hias ini,” katanya.

Taman Bougenvile yang ia kelola mencoba menjaring konsumen dari berbagai kalangan masyarakat, mulai dari masyarakat kelas bawah hingga kelas atas. Harga yang ditawarkan pun sangat beragam, mulai dari harga Rp 1.500 – Rp 1.5 juta per tanaman. Biasanya tanaman yang punya harga tinggi adalah tanaman impor yang masih baru. Seperti tanaman Lady Valentine yang mempunyai daun kemerah-merahan berasal dari Thailand berharga di atas seratus ribu hingga jutaan rupiah.

Jenis tanaman perdu harganya relatif murah, yaitu Rp 1.500 - Rp 15.000 per tanaman. Jenis tanaman air seperti pisang-pisangan, pavirus, lotus, tratai harganya minimal Rp 25 ribu per tanaman. Sedangkan untuk jenis tanaman pelindung seperti rumput, kamboja, flamboyan, pinus, atorium dan lain sebagainya, biasanya dihargai minimalh Rp 30 ribu per tanaman. Ada juga Jenis tanaman yang relatif mahal harganya seperti cemara, bambu, palem, dan bonsai. Harganya kisaran antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per pohon. “Harga standar seperti itu, tapi jika sudah berumur dan kondisinya bagis bisa lebih harganya,” katanya.

Herman mengatakan semua jenis tanaman yang ia dapat diperoleh dari berbagai macam cara, di antaranya adalah lewat mencari tanaman sendiri lalu ditanam dan dirawat, melalui pembibitan sendiri dan lewat perantara antaran dari para pembibit bunga.

Kendati tanaman yang dirawat Herman banyak jenisnya, namun ia mengakui mengalami kendala dalam hal pemasaran. Selama ini ia hanya mengandalkan pemasaran di pinggir jalan, alias pasif menunggu pembeli yang melihat tanamannya. Sementara itu untuk menggunakan jasa pemasaran dirinya belum siap dananya. “Saat ini hanya menunggu pembeli saja, pemasarannya tidak ada,” paparnya.

Meski pun dirinya tidak memiliki tenaga pemasaran, Herman tetap yakin kalau usahanya akan jalan dan berkembang. Saat ini usaha yang digelutinya beromzet Rp 10 juta hingga Rp 20 juta perbulannya. Dengan keuntungan bersih rata-rata Rp 3 juta hingga Rp 6 juta.

Selain menjual tanaman hias, Herman juga menjual beberapa bahan yang berkaitan dengan tanaman, di antaranya adalah pot bunga, pupuk kompos, rak bunga, batu-batuan, hiasan taman dan lain sebagainya. “Biasanya pembeli membeli bunga dengan potnya atau dengan pupuknya, jadi sekalian saja,” katanya.

Lain halnya dengan Samsul, ia sudah menggeluti usaha tanaman hias di bilangan Senayan sejak tahun 1998. Sejak tahun 80-an, kawasan Senayan memang banyak didapati penjual tanaman hias yang ada di trotoar pinggir jalan, selain untuk tujuan bisnis, tempat ini juga sebagai tempat penghijauan wilayah Senayan.

Samsul membuka usahanya pada pukul 08.00 pagi dan tutup pada jam 05.00 sore. Di taman seluas 3 x 6 meter ini, ia menjajakan bunganya setiap hari. Dalam sehari pun, jumlah bunga yang terjual tak mesti. Biasanya berkisar antara 5 hingga 20 buah tanaman. Namun Samsul mengaku kalau lagi ramai bunganya bisa terjual hingga 50 buah. “Gak mesti mas, kadang banyak, kadang sedikit, biasanya kalau ramai itu pas musim kemarau, kalau musim hujan sepi,” paparnya saat ditemui di bilangan Senayan.

Taman bunga yang dikelola Samsul memang hanya mengkhususkan bunga-bunga jenis anggrek, hal ini berbeda dengan usaha tanaman hias di sekitarnya yang menjual segala macam bunga. Hal ini ia maksudkan agar pembeli punya pilihan dalam membeli.

Harga yang dipatok pun berfariasi, mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 500 ribu. Dalam sebulan, Samsul mengaku bisa mengantongi hasil Rp 9 juta, dan yang bisa masuk ke kantongnya berkisar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta sebulan. “Ya lumayan menambah jenis-jenis bunga di taman,” katanya.

Bunga anggrek yang dijual Samsul berasal dari berbagai daerah, seperti Cikampek, Pamulang, Ciputat, Bogor bahkan Sukabumi. Biasanya, bunga didatangkan oleh tengkulak bunga. Bagi Samsul, hal ini bisa memudahkan dirinya fokus pada usaha dan perawatan saja, dan tidak repot membibit atau menanam sendiri. “Saya tingga; memajang dan merawat sekadarnya untuk menunggu pembeli yang datang,” katanya.

Bagi Samsul, waktu yang tidak menguntungkan dalam usaha bunga adalah ketika musim hujan. Pasalnya, tanaman kebanyakan tidak tahan dengan air yang berlimpah apalagi sampai tergenang dalam pot. Tapi jika musim kemarau, dirinya merasa senang karena selain perawatannya mudah, para pembeli juga banyak.

Para pembeli yang datang ke usahanya, rata-rata adalah keluarga menengah ke atas. Hal ini bisa dilihat saat membeli mereka mengendarai mobil pribadi. Selain itu, wialayah Senayan memang jauh dari pemukiman penduduk, karenanya tak heran jika pembelinya rata-rata mengendarai kendaraan roda empat.

Selain menjual bunga jenis anggrek, Samsul juga menjual beberapa perlengkapan seperti pupuk dan pot bunga. Hal ini untuk mengantisipasi jika pembeli membutuhkannya. “Biasanya, para pembeli menanyakan pupuk yang pas untuk bunga yang dibelinya,” ujarnya.

Lain halnya Samsul, Islamil yang sudah menempati wilayah Senayan sejak tahun 1984 banyak memajangkan bunganya mulai dari jenis rumput-rumputan hingga tanaman pelindung. Sedangkan jenis tanaman anggrek tidak ia jual. Alasannya, perawatan anggrek lebih beresiko di banding tanaman hias biasa.

Ismail menjual bunganya berkisar antara Rp 1500 hingga Rp 1.5 juta. Misalnya bunga yang paling murah bernama bunga Gandarusa yang hanya dipatok Rp 1.500, Langtanah dan bunga Taiwan seharga Rp 3.500, sedangkan untuk tanaman Beringin Putih kecil dihargai Rp 500 ribu, bunga Yasmin bisa mencapai Rp 850 ribu hingga Rp 1 juta.

Dalam sebulan, Ismail mengaku mendapatkan keuntungan antara Rp 2 juta hingga Rp 5 juta. “Jualan bunga sifatnya pasif, menunggu pembeli aja, kalau gak ada yang beli ya saya buat merawat bunga,” katanya.

Bunga yang dijajakan oleh Ismail berasal dari wilayah Rawa Belong, Kebun Jeruk, Bogor bahkan Sukabumi. Sebagaimana Samsul, bunga-bunga yang dijual Ismail didatangkan oleh para tengkulak. Namun Ismail juga melakukan pembibitan kembali bunga-bunga yang dibelinya. “Setengahnya saya jual dan setengahnya saya bibit kembali,” ujarnya.

Untuk pembibitan, Ismail butuh waktu 3 bulan sampai 12 bulan. Lama pembibitan tergantung jenis tanaman yang dibibit. Namun, semua dilakukan dengan penuh kesabaran hingga akhirnya ia menuai hasilnya. “Ya sambil menunggu saya membibit tanaman agar tidak beli lagi,” paparnya.

Sebagaimana Herman, Samsul dan Ismail ketiganya dalam menjual tanaman hiasnya sama sekali tidak mengandalkan tenaga marketing untuk menjualnya. Mereka hanya sebatas menunggu pembeli yang datang. Menunggu saja untung, apalagi ada marketingnya? Selamat mencoba.

Tips Bisnis Tanaman Hias

  1. Tempatnya mudah dijangkau oleh pengunjung, baik yang memakai roda dua maupun roda empat.
  2. Tempatnya dekat dengan aliran air, misalnya sungai. Hal ini untuk memudahkan proses penyiraman bunga.
  3. Lahan parkir yang cukup untuk memarkir kendaraan pembeli.
  4. Usahakan jenis tanaman hias yang dipajang berfariasi agar pembeli yang datang bisa memilih bunga yang dicarinya.
  5. Selain tanaman hias, usahakan tersedia pupuk, tanah, pot, rak bunga dan hal-hal yang berkaitan dengan tanaman hias.
  6. Usahakan mempunyai strategi marketing, hal ini bisa lewat brosur atau pun internet.

Goreng Uang dengan Pisang Goreng

Pisang goreng Pontia atau pisang goreng kremes rasanya khas di banding pisang goreng lainnya. Tepungnya yang renyah dan rasa pisang kepoknya yang manis membuat lidah terus ingin menikmatinya. Karenanya, tak heran jika outlet pisang goreng Pontia selalu dibanjiri pembeli.

Lihat saja outlet pisang goreng Pontia yang mengusung bendera P-Man ini. Setiap harinya P-Man dijubeli pembeli yang antri menunggu pisang yang matang dari wajan. Tak heran, jika dalam sekali gelar, P-Man bisa menghabiskan 80 sampai 100 sisir pisang. Letak outlet P-Man memang cukup strategis, pasalnya P-Man berada di pinggir jalan di bilangan Jalan Raya Pasar Minggu, Pancoran, Jakarta Selatan.

Theo, pemilik outlet P-Man ini sudah setahun lebih menggelar dagangan pisang Pontia. Menurut Theo, untuk membuka bisnis pisang Pontia ini dirinya merogoh kocek sekitar Rp 25 juta. Modal ini ia gunakan untuk sewa tempat, membeli beberapa peralatan penggorengan dan gerobak.

Bisnis pisang Pontia ternyata cukup menggiurkan, bagaimana tidak, setiap harinya, Theo bisa menguliti ratusan buah pisang. Jika dalam sehari ia mampu menghabiskan 80 hingga 100 sisir pisang. Maka dalam sehari, Theo berhasil menjual 800 hingga 1000 buah pisang Pontia. "Setiap sisir, kami bisa menjadikan 10 hingga 11 porsi," jelasnya kepada majalah Gontor.

Kini, P-Man telah mempunyai beberapa cabang yang ada di wilayah Jakarta, di antaranya di Cibubur, Buaran, Salemba dan Pondok Bambu. "Saya ingin pisang goreng ini menjadi makanan berkelas, sebab selama ini pisang goreng dianggap makanan biasa," ujar Theo.

Untuk memberikan kesan elegan, maka P-Man mempunyai menu yang berfariasi. Misalnya pisang Pontia dengan rasa srikaya, meises, keju, susu, cokelat, sehingga pembeli bisa menyesuaikan dengan rasa yang ditawarkannya. "Kita memberikan berbagai macam rasa untuk memanjakan konsumen," katanya.

Dengan berbagai macam rasa yang ditawarkan, Theo mematok harga Rp 2.000 hingga Rp 3.000 setiap buahnya. Untuk pisang Pontia yang tidak ada campurannya atau original, ia menjual dengan harga Rp 2.000 per potong. Sedangkan untuk pisang yang punya rasa dipatok harga Rp 2.500 untuk srikaya, meisies, susu, cokelat, sedangkan untuk rasa keju, ia mematok harga lebih, yakni Rp 3000 perbuah.

Theo mengakui, bahwa yang paling laris digemari konsumen adalah pisang original atau pisang goreng yang diolah biasa tanpa ada campuran. Sedangkan untuk rasa keju, ternyata cukup mendapatkan peringkat nomor dua setelah rasa original di banding rasa lainnya.

Untuk memenuhi pasokan pisangnya, Theo mendatangkan pisang-pisang dari berbagai daerah, di antaranya dari Pontianak, Lampung bahkan dari Jawa. Ia mengakui kalau pisang yang digorengnya tak harus dari Pontianak, namun bumbu yang digunakan untuk menggoreng adalah khas dari Pontianak.

Theo menggelar dagangannya mulai jam 15.00 sedangkan tutupnya maksimal jam 22.00 malam hari. Namun jika barang dagangannya laris, maka ia tutup lebih awal. Menurut pengalaman Theo, biasanya waktu yang paling laris adalah ketika jam pulang kantor hingga jam 21.00. "Biasanya, karyawan yang baru pulang kantor menyempatkan untuk beli pisang untuk makan di jalan atau untuk oleh-oleh di rumah," katanya.

Setiap malam, Theo cukup menyiapkan modal sebesar Rp 500 ribu untuk mengoperasikan outletnya. Dana ini digunakan untuk pembelian pisang, tepung, minyak goreng, tabung gas, cokelat, meisies, srikaya, keju, susu dan perlengkapan lainnya. Kendati modal yang dipakai cukup besar, tapi dirinya bisa mengantongi keuntungan kotor sebesar Rp 1.6 juta hingga Rp 2.5 juta permalam.

Menurut Theo, lancar tidaknya bisnis pisang Pontia ini tak lepas dari lokasi yang ditempati. Namun untuk menentukan lokasi juga gampang-gampang susah. Sebab setiap tempat punya kelebihan masing-masing. Theo hanya bisa memberikan saran, tempat yang akan dibuka outlet hendaknya berlokasi tidak jauh dari jalan raya, pasar, kampus atau tempat-tempat keramaian. Outlet hendaknya mempunyai tempat parkir yang cukup untuk memberikan kesempatan pengendara motor atau mobil bisa memarkir kendarannya.

Sementara itu Hengky pemilik pisang goreng Pontianak dengan merk WaWa mengakui dalam sehari bisa menghabiskan 500 hingga 3000 buah pisang goreng siap saji. Setiap buahnya, ia memasang tarif Rp 1800, dengan satu macam rasa, original. "Saya sengaja memberikan satu rasa saja, yaitu rasa pisang goreng asli," katanya.

Saat ini, Hengky memiliki lima tempat, di Bintaro, Cibubur, Cinere, Kelapa Gading dan Lenteng Agung. Hengky mengakui kalau pemasaran yang paling paling banyak pembelinya berada di Kelapa Gading, yakni hingga 3000 buah sehari. Sedangkan untuk outlet yang ada di Lenteng Agung, hanya menghabiskan 500 buah semalam.

Kendati demikian, keuntungan yang diraup oleh Hengky cukup besar. Jika satu buah pisang dijual Rp 1800, maka jika dalam sehari laku 3000 buah, maka Hengky bisa memperoleh penghasilan kotor Rp 5.4 juta.

Hengky mengakui bahwa pisang goreng Pontianak berbeda dengan pisang goreng Pontia. Pisang goreng Pontianak menurutnya lebih menampilkan rasa pisangnya dan bukan pada rasa tepung pisang yang membalutnya. Sedangkan kalau pisang Pontia, lebih banyak ditutupi tepung. Namun keduanya memiliki ciri krispi dipisangnya.

Theo mengatakan, proses penggorengan pisang Pontia berbeda dengan pisang goreng biasa yang hanya sekali goreng. Proses penggorengan pisang Pontia dilakukan tiga kali berurutan. Proses pertama adalah proses produksi, di mana pembuatan tepung crispy dilakukan. Proses kedua, adalah proses pengeringan, yakni pemisahan pisang dari kandungan air. Berikutnya penggorengan akhir, atau finishing sebelum pisang goreng Pontia siap disaji. Berbelit tapi datangkan duit.

Tips Buka Outlet Pisang Pontia

1. Pemilihan lokasi.
Usahakan di lingkungan keramaian, biasanya di daerah anak kos, pasar, terminal.

2. Menentukan menu pisang.
Menu masakan bisa dikelompokkan menjadi menu khusus atau umum (banyak ragam menu).

3. Tukang goreng.
Tukang goreng atau koki bisa dibilang sebagai kunci utama warung. Ciri khas rasa ada ditangan koki.

4. Supplier murah
Mencari supplier murah tentu menjadi penting. Dengan supply barang murah, kita akan mampu menekan harga jual atau mendapatkan keuntungan lebih. Jangan membeli barang murah dengan kualitas jelek. Pilihlah kualitas bagus dengan harga lebih murah.

5. Interior & Perabot
Dekorasi outlet akan memberikan kesan kepada konsumen. Apakah mau didesain konvensional dengan warna dan bentuk gerobak yang menarik. Semua perlu diperhitungkan dengan seksama untuk memberikan kesan kepada konsumen.

6. Harga dan rasa.

Usahakan rasa yang disajikan enak namun harga bisa terjangkau. Jangan memasang tarif yang terlampau tinggi untuk outlet di ppinggir jalan.

7. Menu tambahan.

Menu tambahan menjadi daya tarik tersendiri dan juga menambah keuntungan. Menu tambahan bisa berupa variasi rasa.

8. Kebersihan.

Meskipun menyediakan menu murah meriah dan lezat, akan sangat nikmat makan di tempat yang bersih dan rapi. Janganlah memnjual menu yang sudah basi.

9. Ramah.

Pelayanan yang ramah akan membuat pelanggan tidak segan kembali lagi. Carilah karyawan bagian depan yang murah senyum dengan penampilan rapih dan enak dipandang.

10. Promosi.

Promosi bisa dilakukan dengan spanduk, menyebar brosur atau pun memberikan door prize untuk bulan-bulan tertentu.

Raup Rizki dari Ayam dan Lele

Malam itu jarum jam menunjukkan pukul 19.30 WIB, warung tenda di pinggir jalan berlabel Alim Jaya ini ramai dikunjungi pembeli yang ingin menikmati makan malam. Tempatnya sederhana, makanan yang disajikan pun sederhana, ayam goreng dan pecel lele. Kendati demikian, keuntungan yang dihasilkan warung ini cukup menggiurkan.

Bagi yang bermodal pas-pasan, bisnis warung tenda di pinggir jalan mungkin salah satu peluang untuk maraup rezeki. Menurut Muallim, rata-rata dalam semalam dirinya bisa mengantongi keuntungan bersih Rp 200 ribu. Ini berarti dalam sebulan, Alim bisa memperoleh untung Rp 6 juta.

Alim membuka warung tendanya di pinggir jalan Akses Depok sejak tahun 1998. Alim mengakui warungnya hanya menyediakan dua menu utama, yaitu nasi ayam goreng dan pecel lele. Namun dengan dua menu ini, Alim sudah bisa membangun rumah di kampungnya, Cirebon.

Menurut Alim, bisnis makanan ini gampang-gampang susah. Karena ini menyangkut selera seseorang. Karenanya, pemilik warung harus pandai menyesuaikan selera yang dibutuhkan konsumen. "Sekali konsumen cocok dengan rasa yang kita sajikan, kemungkinan besar ia akan datang lagi dengan membawa orang terdekatnya," katanya.

Untuk mendirikan warung tenda ini, Alim merogoh kocek sebesar Rp 7 juta. Modal ini menurutnya, untuk pembelian gerobak, tenda besi, meja, kursi, piring, gelas, mangkok, dan peralatan dapur lainnya. "Warung nasi ini punya cash flow harian, maka modal yang diputar tidak terlalu besar, namun berpeluang menghasilkan keuntungan besar," ujarnya.

Dalam semalam, Alim bisa melayani 60 sampai 80 orang. Biasanya, ia mulai buka warungnya pada jam 17.00, sedangkan tutupnya maksimal jam 01.30 dini hari. Namun jika barang dagangannya laris, maka ia tutup lebih awal. Menurut pengalaman Alim, biasanya waktu yang paling laris adalah ketika malam Minggu dan malam Jum'at.

Setiap malam, Alim cukup menyiapkan modal sebesar Rp 400 ribu untuk membuka warungnya. Dana ini digunakan untuk pembelian bumbu, ayam, lele, lalapan, sewa listrik dan beli beras.

Alim mengatakan sekali buka warung, dirinya menyediakan 10 ekor ayam atau 40 porsi ayam siap hidang. Setiap ekor yang ia beli seharga Rp 10 ribu, ia potong menjadi empat porsi. Setiap porsinya, Alim mematok harga Rp 7 ribu atau Rp 28 ribu untuk empat porsinya. Jadi jika ayam yang disajikan laku semua, maka Alim bisa meraup mendapatkan hasil sebesar Rp 280 ribu. Pendapatan ini belum dari menu pecel lelenya.

Untuk menu pecel lele, setiap malam Alim menyiapkan 5 kilogram ikan lele. Setiap kilogram ikan lele, Alim membelinya dengan harga Rp 10 ribu dan mendapatkan 8 ekor ikan lele. Jadi, untuk 5 kilogram, ia menyediakan menu siap saji 40 ekor ikan lele. Menurut Alim, besarnya pendapatan yang dihasilkan dari menu pecel lele ini juga cukup besar. Setiap porsinya, Alim memasang tarif seharga Rp 5 ribu. Atau jika 40 ekor yang disajikan laku semua, maka ia mendapatkan hasil sebesar Rp 200 ribu. "Padahal untuk beli lelenya saja hanya menghabiskan Rp 50 ribu," katanya. Sedangkan untuk minumannya, Alim menyediakan minuman mulai dari air mineral, es teh dan es jeruk.

Senada dengan Muallim, Hariadi yang menjajakan dagangan ayam goreng dan pecel lele di bilangan jalan raya Bogor ini juga mengaku mendapatkan keuntungan yang cukup besar. Menurut Hariadi, dalam semalam, dirinya bisa menjual ayam gorengnya sebanyak 12 ekor atau 48 porsi.

Suhardi mematok harga perporsi sebesar Rp 7 ribu. Maka dalam semalam, jika ayamnya terjual semua, ia bisa mengantongi uang sebesar Rp 336 ribu. Ini berarti pendapatan Hariadi lebih besar di banding Muallim yang hanya mampu menjual 40 ekor setiap malamnya.

Sedangkan untuk pecel lele, Hariadi juga bernasib mujur, pasalnya dalam semalam, ia bisa menghabiskan 3 sampai 4 kilogram ikan lele. atau sekitar 20 hingga 30 ekor. "Yang namanya dagang, kadang laku keras, kadang juga sepi," paparnya. Namun Hariadi mengakui kalau dagangannya selama ini selalu laris.

Hariadi mengakui kalau tempat yang ia tempati cukup strategis, karena di samping dekat dengan pasar, dekat jalan raya juga dekat dengan rumah sakit. "Jadi setiap malam cukup ramai banyak orang, meski sudah jam 12 malam ke atas," katanya.

Masalah tempat, keduanya mempunyai pendapat yang sama, bahwa membuka warung tenda harus memperhatikan lokasi yang tepat. Di antaranya tempat yang cocok untuk warung tenda ini adalah di pinggir jalan, dekat dengan keramaian, mempunyai tempat parkir yang cukup, tempat tidak berdebu, "Kenyamanan tempat salah satu faktor warung disinggahi pembeli," katanya.

Setiap bisnis tentu memiliki resiko. Demikian juga usaha makanan siap saji ini. Untuk mengantisipasi barang tidak laku, pengelola warung perlu tahu saat yang ramai dan sepi. Muallim mengatakan, kalau warung tendanya biasanya ramai pada malam Jum'at dan malam Minggu.

Sedangkan untuk mengantisipasi dagangan tidak laku, Hariadi biasanya, menyimpannya di tempat yang tahan basi, seperti dalam kulkas. Sebab menurutnya, ada beberapa lauk yang tahan dua hari. "Jika menyimpan bisa dilakukan, maka saya lakukan, jika tidak saya manfaatkan yang lain," katanya.

Tips Buka Warung Tenda

1. Pemilihan lokasi.
Usahakan di lingkungan keramaian, biasanya di daerah anak kos, pasar, terminal.

2. Menentukan menu masakan.
Menu masakan bisa dikelompokkan menjadi menu khusus atau umum (banyak ragam menu). Mau berjualan khusus seperti lalapan lele, nasi goreng, sate & gule atau menu campuran. Harus diperhitungkan baik buruknya.

3. Tukang Masak.
Koki bisa dibilang sebagai kunci utama warung. Ciri khas rasa ada ditangan koki.
Carilah koki yang memiliki cita rasa tinggi. Sesuaikan dengan menu yang akan dijual.

4. Supplier murah
Mencari supplier murah tentu menjadi penting. Dengan supply barang murah, kita akan mampu menekan harga jual atau mendapatkan keuntungan lebih. Jangan membeli barang murah dengan kualitas jelek. Pilihlah kualitas bagus dengan harga lebih murah.

5. Interior & Perabot
Dekorasi warung akan memberikan kesan kepada konsumen. Apakah mau didesain konvensional dengan etalase dan meja memanjang, dengan meja kecil berhadapan atau lesehan. Sesuaikan dengan kondisi lingkungan.

6. Harga dan rasa.

Usahakan rasa yang disajikan enak namun harga bisa terjangkau. Jangan memasang tarif yang terlamapu tinggi untuk warung tenda pinggir jalan.

7. Menu tambahan.

Menu tambahan menjadi daya tarik tersendiri dan juga menambah keuntungan. Menu tambahan bisa berupa variasi minuman seperti soft drink, juice, dll.

8. Kebersihan.

Meskipun menyediakan menu murah meriah dan lezat, akan sangat nikmat makan di tempat yang bersih dan rapi. Janganlah memnjual menu yang sudah basi.

9. Ramah.

Pelayanan yang ramah akan membuat pelanggan tidak segan kembali lagi. Carilah karyawan bagian depan yang murah senyum dengan penampilan rapih dan enak dipandang.

10. Promosi.

Promosi bisa dilakukan dengan spanduk, menyebar brosur atau pun memberikan door prize untuk bulan-bulan tertentu.

Jumat, 15 Februari 2008

Meraup Untung dari Si Buyung


Bisnis pakaian bayi dan ibu hamil cukup menggiurkan. Selama masih ada ibu hamil, bisnis ini dijamin akan terus berjalan.


Perut Indri kian membuncit. Usia kandungannya sudah masuk bulan ke delapan. Meski si buah hati belum lahir, Indri sudah sibuk memilih pakaian untuk buah hatinya. Berbagai perlengkapan untuk si “buyung”, mulai dari popok, sarung tangan, topi, kain gurita, bedak, minyak, keranjang dorong, bahkan boks bayi mulai dibeli.

Kebutuhan menjelang persalinan ditangkap oleh sebagian orang untuk berbisnis. Usaha ini tak mengenal waktu, alias bukan bisnis musiman. Selagi masih ada orang hamil, maka selama itu pula perlengkapan bayi dibutuhkan.

Itulah yang dilakukan Ifdinal, dan Marie Ariesty, istrinya. Mereka mulai merintis bisnis perlengkapan bayi sejak tahun 2000, dengan modal Rp 500 ribu. Kini toko mereka dengan label "Meri" itu telah berhasil menggaet omzet Rp 3 juta sehari. Keuntungan bisa di ambil antara 10-20 persen.

Awalnya Ifdinal membuka toko dengan beberapa potong perlengkapan bayi, seperti baju, celana, popok, kain bedongan di pertokoan International Trade Center (ITC) Cipulir, Jakarta Selatan. Kini dia mampu menempati 8 toko yang berada di lantai 1, dan lantai dasar. "Semua butuh perjuangan dan kerja keras, Mas," katanya.

Ifdinal dulu pernah bekerja di percetakan dan toko korden. Tapi kemudian dia banting setir, dengan membuka usaha perlengkapan bayi dan ibu hamil. Alasannya, trend perlengkapan bayi perubahannya sangat sedikit di banding mode pakaian orang dewasa yang setiap waktu terus mengalami perubahan.

Selain itu, perlengkapan bayi akan terus dibutuhkan para ibu yang sedang mengandung. "Selagi masih ada orang hamil, maka bisnis ini akan tetap jalan," tandasnya.

Kendati demikian, menurut Ifdinal, untuk memulai bisnis di dunia bayi ini seseorang harus tetap memerhatikan lingkungan sekitar. Artinya, lingkungan bisnis harus strategis, misalnya dekat dengan permukiman, banyak orang lalu lalang, dekat dengan jalan umum, dan mudah dijangkau.

Sebab calon pembeli perlengkapan bayi, biasanya ibu-ibu yang dalam kondisi hamil sehingga mereka akan mencari tempat yang mudah dijangkau. "Kita juga harus mengetahui kondisi psikologis calon pembeli," kiatnya.

Untuk memberikan layanan terbaik kepada konsumen, Ifdinal kerap menerapkan langkah pendekatan langsung kepada calon pembeli yaitu dengan cara memahami, dan mengenal apa yang dibutuhkan. Karena itu, kejujuran adalah kunci utama dalam menjalankan bisnis ini. "Saya tidak mengambil banyak untung, yang terpenting adalah bagaimana konsumen menjadi betah, dan terus memercayakan kepada kami," tambahnnya.

Guna memenuhi kebutuhan konsumen, Ifdinal secara bertahap menjadikan toko usahanya sebagai toko //one stop shopping//, artinya segala perlengkapan bayi dari A hingga Z tersedia di tokonya. "Kami terus melakukan penyempurnaan. Syukur-syukur kalau bisa menyediakan segala kebutuhan bayi dan ibu hamil," terangnya.

Harga berbagai macam produk yang dipatok di toko Meri juga bervariasi, mulai dari harga Rp 3 ribu hingga Rp 2,5 juta. Barang dagangan yang digelar pun tak hanya untuk konsumen eceran melainkan juga grosir. Perbandingannya antara keduanya 25 persen konsumen grosir, dan 75 persen konsumen eceran.

Dominasi dari konsumen eceran ini dikarenakan lokasi yang ia tempati kebanyakan adalah para pembeli eceran, "Kebanyakan yang datang ke ITC ini para pembeli eceran," katanya.

Ifdnal mengakui kalau pemasaran yang dilakukan selama ini hanya dengan model getok tular atau dari mulut ke mulut. Cara ini, menurut Ifdnal, cukup efektif dan tidak memerlukan ongkos yang besar. "Awalnya dari orang-orang terdekat, lama-kelamaan pelanggan tak hanya dari Jakarta tapi sudah masuk wilayah Tangerang, dan Bekasi," katanya.

Adapun pemasaran melalui dunia internet yang kerap dilakukan banyak orang masih belum dia lakukan. Dia mengakui pemasaran melalui internet, pasarnya tak hanya lokal, tapi juga bisa ke wilayah yang lebih luas.

Sebagaimana yang dilakukan Ahmad Sarifudin, 30 tahun. Dengan website bernama “Daffa Baby Shop”, ia mengaku kerap mendapatkan order dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebelum menembus pemasaran melalui dunia maya, Ahmad membuka tokonya di bilangan Ciledug Raya, Tangerang dengan modal awal sekitar Rp 30 juta pada Juni 2007. meski tergolong baru, para pembeli yang datang cukup untuk menutupi modal yang dia keluarkan.

Dalam sebulan, omzet yang dia raup mencapai Rp 10 juta. Dan sekitar 20-30 persen keuntungan masuk ke kantong Ahmad. Ia mengakui omzet yang ia raup masih tergolong kecil karena bisnis yang ia geluti juga masih baru. Namun demikian, ia tak berhenti begitu saja. Salah satunya dengan cara memasarkan produknya melalui internet.

"Di internet, pasar yang kita bidik lebih luas jangkauannya dan tak hanya di daerah di mana lokasi kita berada, tapi juga bisa menjangkau luar negeri," paparnya. Saat ini daerah yang sudah menjadi pasarnya adalah Medan, Surabaya, Palangkaraya, Lampung dan lain sebagainya.

Pemasaran melalui media internet lebih efektif dan fleksibel di banding harus membuat pamflet atau media lainnya. Kelemahannya, kalau pemasaran di internet hanya bisa diakses oleh konsumen yang tahu dunia internet. Jika tidak, akan mengalami kesulitan.

Untuk melengkapi persediaan dagangannya, Ahmad memilih menjalin kerja sama dengan para pedagang besar yang ada di wilayah Cipulir. Pasalnya, pasar Cipulir memang dikenal sebagai tempat grosir dan eceran perlengkapan bayi. Hal ini untuk mengantisipasi jika ada order besar atau mengurangi barang yang tidak laku.

Ahad mengakui kalau produk yang kerap dipesan oleh konsumen banyak berupa kado untuk kelahiran bayi, yang isinya memiliki banyak variasi, dari bedak, popok, baju setelan, bahkan mangkok serta botol susu bayi. "Semua tergantung pesanan," katanya.

Alasan Ahmad menekuni usaha perlengkapan bayi, karena bisnis ini tidak lekang oleh waktu, dan trennya tidak mudah berubah di banding perlengkapan orang dewasa yang mudah berubah. "Selagi masih ada orang hamil, maka bisnis ini masih memiliki peluang bagus ke depan," paparnya.

Menurut dia, bisnis ini tidak mengenal musim, model pada pakaian bayi tidak cepat usang, yang berubah hanya motifnya saja. Terakhir usaha ini cepat lakunya karena masa pakai pakaian bayi sangat cepat berubah. "Jadi prospek bisnis ini cukup baik ke depannya," paparnya. Fathurrozi